Breaking News:

Berita Video

Video Rasa Syukur Nelayan Pekalongan, Hasil Bumi hingga Kepala Kerbau Dilarung Ke Laut

Sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan hasil laut, tradisi sadranan nelayan Pekalongan tahun ini kembali digelar setelah tahun 2020 tak digelar. 

Penulis: Indra Dwi Purnomo | Editor: abduh imanulhaq

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN -  Berikut ini video rasa syukur nelayan Pekalongan, hasil bumi hingga kepala kerbau dilarung ke laut.

Sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan hasil laut, tradisi sadranan nelayan Pekalongan tahun ini kembali digelar setelah tahun 2020 tak digelar. 

Berbagai hasil bumi seperti sayur-mayur, buah-buahan, jajanan tradisional, kepala dan kaki kerbau disedekahkan para nelayan sebagai ungkapan syukurnya atas rezeki melaut selama satu tahun penuh.

Namun, karena masih pandemi Covid-19 sadranan digelar secara sederhana di Dermaga Pelabuhan Kota Pekalongan, Senin (15/11/2021).

Ketua HNSI Kota Pekalongan, Imam Menu Harun mengatakan, kegiatan sadranan tersebut dilaksanakan dikarenakan hal itu sakral dan kebudayaan lokal yang perlu dilestarikan.

"Sadranan ini dilaksanakan dengan cara melarung. Alhamdulillah, selama ini kami mendapat tangkapan hasil laut yang melimpah," kata Ketua HNSI Kota Pekalongan, Imam Menu Harun.

Imam menjelaskan, biasanya rangkaian sedekah laut memiliki banyak kegiatan budaya lain seperti wayangan, tari-tarian sintren, namun karena di masa pandemi maka kegiatan disederhanakan.

"Saat ini masih aman untuk menangkap ikan di laut, meskipun sekarang Kota Pekalongan sering mendung dan kadang hujan tetapi masih mendukung. Kalau cuaca tak mendukung, memang kami para nelayan harus waspada dan berhati-hati," jelasnya.

Sementara itu, Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid yang turut mengikuti jalannya tradisi sedekah laut itu mengungkapkan, kegiatan itu murni sebagai bentuk saling menghormati dan saling menghargai, tanpa adanya tujuan lain, sekaligus upaya untuk tetap melestarikan budaya di Kota Pekalongan.

"Sadranan ini rutin dilakukan setiap tahunnya sejak zaman dulu. Tahun 2020 memang tidak ada karena pandemi, namun tahun ini kembali diadakan secara sederhana yakni larung sesaji saja tanpa pertunjukan wayang dan sintren," kata Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid.

Menurut Aaf, panggilan akrabnya Wali Kota Pekalongan bahwa tradisi ini adalah bentuk penghormatan dan rasa syukur. Selama ini para nelayan mengais rezeki mencari ikan di laut.

"Ini bukan untuk syirik, sadranan ini sudah menjadi tradisi yang harus dilestarikan. Begitu pula dengan wayang dan sintren yang juga budaya yang harus dilestarikan," ujarnya.

Wali Kota Aaf berharap, ke depan nelayan Pekalongan bisa semakin sejahtera dan hasil melaut semakin banyak.

"Tradisi sadranan ini menjadi tonggak semangat kebangkitan sektor perikanan di Kota Pekalongan, termasuk akan dibangunnya pelabuhan onshore. Semoga sektor perikan Kota Pekalongan kembali bangkit," imbuhnya. (Dro)

TONTON JUGA DAN SUBSCRIBE :

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved