Breaking News:

Berita Semarang

Keluh Pelaku Bisnis Persewaan Tenda dan Perlengkapan Pesta Pernikahan Kota Semarang saat PPKM

Bisnis persewaan tenda dan peralatan pesta pernikahan di Kota Semarang mulai masih meredup di tengah penerapan PPKM level 1.

Penulis: budi susanto | Editor: moh anhar

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bisnis persewaan tenda dan peralatan pesta pernikahan di Kota Semarang mulai masih meredup di tengah penerapan PPKM level 1.

Pasalnya, prosentase persewaan dianggap sejumlah pelaku bisnis persewaan tenda dan peralatan pesta pernikahan, jauh dibanding sebelum pandemi beberapa waktu lalu.

Menurut, Sasminto pemilik Satria Tenda satu di antara persewaan tenda dan peralatan pesta pernikahan di wilayah Kecamatan Tembalang, penurunan pendapatan terparah terjadi saat penerapan level 4 hingga 2 sampai yang mencapai 100 persen.

Baca juga: Rumah Lengger Akan Menjadi Bagian dari Pengembangan Kawasan Wisata Kota Lama Banjoemas

Baca juga: Berangan-Angan Bantu Penghafal Alquran di Demak, Kini Bupati Eisti Beri Paket Ayam Plus Kandang

Baca juga: Cegah Curanmor, Polres Blora Aktif Patroli ke Kawasan Persawahan dan Permukiman Warga.

“Kalau di level 1 ini mulai bergerak, satu pekan ada 1-2 penyewa, saat level 4 sampai 2 sama sekali tidak ada yang menyewa,” paparnya, Senin (22/11/2021).

Meski bisnis mulai bergeliat saat PPKM level 1, namun Sasminto menuturkan, bisnis persewaan tenda dan perlengkapan pesta di Kota Semarang pernikahan masih redup.

“Ya jauh sekali, sebelum pandemi paling sepi tempat saya melayani delapan acara setiap pekan, sekarang tiga acara saja kesulitan,” tuturnya.

Kondisi pandemi diakui Sasminto sangat berdampak pada bisnis persewaan tenda dan perlengkapan pesta pernikahan.

“Saya sampai menjual aset karena hampir dua tahun tak ada penyewa, sound sistem seharga Rp 500 juta akhirnya saya jual Rp 95 juta, beberapa tenda saya jual Rp 7 juta, dan satu truk Rp 110 juta. Sampai sekarang aset di tempat saya terus menyusut karena pandemi,” terangnya.

Ia menuturkan, aset yang dijual untuk bertahan selama pandemi, lantaran tidak ada penyewa hampir dua tahun.

“Mau makan apa pekerja dan keluarga saya kalau tidak menjual aset, pekerja saya yang semula hampir 30 orang saja sekarang tingga 14 yang aktif,” ujarnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved