Breaking News:

OPINI

OPINI Ribut Lupiyanto : Jawa Siaga La Nina

FENOMENA La Nina menghantui Pulau Jawa. Pantauan Badan Meteorologi Kimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation)

Tribun Jateng
Ribut Lupiyanto 

Oleh Ribut Lupiyanto

Deputi Direktur C-PubliCA

FENOMENA La Nina menghantui Pulau Jawa. Pantauan Badan Meteorologi Kimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah telah melewati ambang batas La-Nina. Diprakirakan fenomena ENSO La-Nina Lemah dan dimungkinkan menjadi La-Nina Moderat berlangsung hingga awal tahun 2022.

La Nina terjadi karena peningkatan suhu pada permukaan Samudera Pasifik timur dan tengah. La-Nina akan berdampak pada peningkatan intensitas curah hujan bulanan di atas normalnya atau rata ratanya. Dampak terhadap peningkatan bencana hidrometeorologi semakin tinggi terlebih di puncak musim hujan, Januari 2022.

Dampak dari adanya La Nina ialah terjadinya peningkatan suhu kelembaban pada lapisan atmosfer di atas perairan dan dapat meningkatkan curah hujan. Fenomena La Lina dapat menyebabkan intensitas turunnyahujancukup tinggi. Akibatnya terjadi gegar hidrologi dan akibatkan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.

Gegar Hidrologi

Setiap orang membutuhkan setidaknya 2.000 meter kubik air per tahun, sedangkan rata-rata mereka hanya memiliki akses 1.300 meter kubik. Permintaan air yang telah melebihi pasokan yang tersedia ini menghasilkan kelangkaan air. Permintaan ini terus bertambah seiring pertambahan penduduk dan dinamika pembangunan, sedangkan pasokan sumberdaya air cenderung statis bahkan menyusut. Krisis kelangkaan air atau kekeringan menjadi hantu bagi perjalanan peradaban manusia.

Optimalisasi neraca air yang tidak tercapai bahkan menimbulkan bencana disinyalir terjadi karena karut marut manajemen sumberdaya air. Krisis air didiagnosis terjadi karena efek gegar hidrologi. Gegar hidrologi seperti halnya gegar otak, merupakan kondisi dimana pengelola negeri ini tidak mampu memahami dan gagal memfungsikan kaidah-kaidah hidrologi dalam pembangunan (Siswantara, 2011).

Gegar menyebabkan terganggunya siklus hidrologi. Manajemen sumberdaya air termarjinalkan oleh ambisi kepentingan ekonomi. Malpraktek pembangunan fisik terjadi tanpa kendali. Konversi lahan terbuka menjadi area terbangun merajalela. Hutan kota disulap menjadi hutan bangunan. Sempadan sungai yang mestinya sebagai kawasan hijau justru padat permukiman. Deforestasi marak terjadi dan mengabaikan prinsip konservasi.

Mitigasi Dini

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved