Breaking News:

Guru Berkarya

Discovery Learning Permudah Belajar Interaksi Keruangan Negara ASEAN

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial.

Editor: abduh imanulhaq
IST
Dian Setiyanigsih SPd, Guru SMPN 10 Surakarta 

Oleh: Dian Setiyanigsih SPd, Guru SMPN 10 Surakarta

ILMU Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial. IPS dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial masyarakat. Dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 dijabarkan bahwa melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.

Pembelajaran IPS yang dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) berupa penjabaran konsep-konsep, peristiwa dan fakta yang berkaitan dengan isu sosial. Banyaknya konsep dan teori membuat peserta didik susah untuk memahami materi.

Seperti pada salah satu materi di kelas 8 yaitu interaksi keruangan dalam kehidupan di negara-negara ASEAN. Peserta didik merasa kurang termotivasi dalam belajar karena cara pemberian materi yang monoton. Peserta didik hanya diminta membaca dan merangkum materi. Kurangnya motivasi belajar peserta didik menyebabkan nilai rata-rata IPS masih di bawah KKM.

Hal tersebut terbukti pada peserta didik kelas 8 SMP Negeri 10 Surakarta  saat melaksanakan penilaian harian materi interaksi keruangan negara-negara ASEAN. Hanya 40% peserta didik yang mendapatkan nilai di atas KKM. Sisanya, mengaku soal pada penilaian harian terlalu sulit.

Padahal, soal yang diberikan sesuai dengan materi yang sudah diajarkan. Melihat hasil tersebut, diperlukan cara untuk menarik minat peserta didik dalam belajar IPS.

Salah satu cara untuk menigkatkan motivasi belajar peserta didik adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang sesuai. Model pembelajaran yang sesuai dalam materi tersebut yaitu Discovery Learning.

Menurut Iwan Setiawan (2017:20), Discovery Learning diartikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi jika pembelajaran tidak disajikan dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan peserta didik mampu mengorganisasi sendiri hasil belajarnya. Dalam pengaplikasian model pembelajaran discovery, peserta didik diberi kesempatan untuk aktif dalam proses pembelajaran.

Tahapan dalam penerapan discovery learning dalam pembelajaran materi interaksi keruangan dalam kehidupan negara-negara di ASEAN,yaitu pemberian rangsangan, identifikasi masalah, pengumpulan data, pengolahan data, pembuktian, dan menarik kesimpulan.  Pemberian rangsangan dilakukan dengan cara peserta didik mengamati gambar dan video mengenai bentuk kerja sama antar negara di ASEAN.

Selanjutnya tahap identifikasi masalah. Pada tahap ini peserta didik secara berkelompok merumuskan pertanyaan berdasarkan hasil pengamatan.

Pada tahap pengumpulan dan pengolahan data, peserta didik mencari jawaban dari pertanyaan yang sudah dibuat sebelumnya. Pengumpulan data bisa dicari di majalah, internet maupun buku pelajaran. Hasil yang didapatkan didiskusikan dengan teman kelompok dengan arahan guru.

Terakhir pembuktian dan menarik kesimpulan. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusinya dan ditanggapi oleh kelompok lain. Selesai presentasi, guru memberikan penguatan. Hasil diskusi disimpulkan berdasarkan masukan dari guru dan teman-teman yang lain.

Penerapan discovery learning pada pembelajaran IPS di SMP Negeri 10 Surakarta mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Proses pencarian informasi yang dilakukan secara langsung membuat peserta didik lebih memahami materi. Hasilnya, nilai peserta didik juga meningkat. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved