Breaking News:

Fokus

Fokus : (Jangan) Takut PPKM

MASYARAKAT bertanya-tanya, baru saja mulai ada pelonggaran kenapa harus diperketat lagi. Bukankah sekarang sudah banyak orang divaksin

Penulis: iswidodo | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/bram
Iswidodo wartawan Tribunjateng.com 

oleh Iswidodo

Wartawan Tribun Jateng

MASYARAKAT bertanya-tanya, baru saja mulai ada pelonggaran kenapa harus diperketat lagi. Bukankah
sekarang sudah banyak orang divaksin sehingga tidak rentan penularan. Dan sebagian sudah pernah merasakan
sebagai pasien positif Covid-19. Buktinya pulih sehat dan bisa beraktivitas kembali.

Jalan raya mulai dipadati kendaraan bahkan jalur tertentu sudah muncul kemacetan. Pedagang kaki lima pun boleh berjualan hingga tengah malam.

Bioskop sejak beberapa minggu lalu sudah menayangkan film-film unggulan. Tempat wisata alam maupun wisata buatan mempersilakan pengunjung menikmati hiburan. Rumah makan, restoran maupun kafe juga boleh memanjakan pengunjung.

Anak-anak juga mulai bersekolah tatap muka meski jadwal diatur seminggu 2 tiga kali. Santri-santri juga sudah kembali ke pesantren untuk mengaji. Pedagang pasar dan pemilik toko maupun swalayan pun senang karena pengunjung ramai hampir sama seperti sebelum pandemi.

GOR maupun Taman Kota secara bertahap ramai pengunjung terutama di akhir pekan. Orang menggelar hajatan juga makin banyak, tamu undangan nyaris tak dibatasi jumlahnya meski mereka tetap pakai masker dan jaga jarak. Kegiatan ibadah dan pertemuan komunitas sudah nyaris normal kembali.

Apakah kondisi pelonggaran yang lama dirindukan masyarakat itu akan dicabut kembali. Yang semula work from home (WFH) kemudian bertahap menjadi work from office (WFO) sehingga suasana perkantoran hidup lagi. Kenapa pengetatan diberlakukan lagi. Bukankah kondisi Indonesia sudah lebih baik saat ini?

Desa-desa wisata mulai berbenah besolek menggeliat menyambut tamu istimewa. Pekerja seni budaya pun mulai tersenyum karena ada "tanggapan" lagi. Dan aktivitas lainnya baik seni, budaya, olahraga, ekonomi, sosial, wisata, keagamaan tumbuh harapan.

Sabar dulu. Pandemi belum usai. Penularan virus masih harus diantisipasi secara maksimal. Jangan takut dengan rencana pemerintah memberlakukan PPKM Level 3 saat Libur Natal dan Tahun Baru, 24 Desember hingga 2 Januari.

Menko PMK Muhadjir Effendy mengatakan, pemerintah akan memberlakukan pengetatan tambahan yang difokuskan pada kerumunan massa. Potensi kerumunan besar harus dicegah. Yaitu cegah terjadinya kerumunan, mulai dari pesta tahun baru, pelaksanaan peribadatan, hingga kemungkinan akan dilakukannya penutupan tempat wisata.

Upaya tersebut semata-mata demi mencegah meningkatnya kasus Covid-19 di Tanah Air yang sudah membaik. Maka kalau ada daerah yang tak bisa kendalikan kasus covid-19, ya tempat wisata ditutup lagi.

Kenapa difokuskan saat Nataru, karena periode tersebut diperkirakan pergerakan masyarakat akan begitu masif sehingga dikhawatirkan akan meningkatkan kasus Covid-19 di Indonesia yang sudah melandai. Indonesia sedang dalam kondisi terbaik pengendalian Covid. Padahal saat ini negara-negara di Eropa justru sedang mengalami kenaikan kasus Covid lagi. Maka semua pihak harus menyadarinya.

Pertemuan yang melibatkan banyak orang ditiadakan. Tidak ada pesta tahun baru, pesta kembang api, pawai malam tahun baru dan sebagainya. Kebijakan ini untuk mencegah kerumunan massa yang berpotensi memicu penularan Covid-19.

Tercatat hingga 22 November ini, jumlah masyarakat yang sudah divaksinasi dosis kedua baru mencapai 44%. Sedangkan yang sudah disuntik vaksin pertama 64%. Pemerintah telah menetapkan sasaran vaksinasi terhadap 208.265.720 penduduk Indonesia. Presiden ingin hingga akhir tahun bisa mencapai 70 persen. (*)

Baca juga: Jelang Penetapan Tersangka Kasus Pembunuhan di Subang, Polisi Telah Periksa 55 Orang Saksi

Baca juga: Kian Mengkhawatirkan, Abrasi di Sayung Demak Sudah Gerus Daratan 2 Kilometer 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved