Breaking News:

Berita Salatiga

Adopsi Kartu Tani Antar Dani Harun Raih Gelar Doktor

Dani Ramdani Harun berhasil menyandang predikat Doktor di Universitas Satya Wacana.

Penulis: Hermawan Handaka | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Hermawan Handaka
Kepala Bidang Penyuluhan, Pasca Panen dan Bina Usaha Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Dani Ramdani Harun berhasil menyandang predikat Doktor dari Program studi Doktor Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Melalui acara Yudisium yang diselenggarakan secara luring terbatas di ruang Probowinoto, Rabu (24/11/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Kepala Bidang Penyuluhan, Pasca Panen dan Bina Usaha Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Dani Ramdani Harun, berhasil menyandang predikat Doktor dari Program studi Doktor Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).

Melalui acara Yudisium yang diselenggarakan secara luring terbatas di ruang Probowinoto, Rabu (24/11/2021), pria kelahiran Garut tersebut dinyatakan berhasil lulus dengan IPK 3.75 dan predikat sangat memuaskan. Mengusung disertasi berjudul “Model Persepsi Petani Studi Empirik Adopsi dan Implementasi Program Kartu Tani di Provinsi Jawa Tengah”, 

Dani Harun dipromotori oleh Prof. Dr. Ir. Sony Heru Priyanto,MM, dan ko-promotor  Ir. Lieli Suharti, MM, Ph.D.

Tim penguji disertasi Dani Harun terdiri dari Hari Sunarto,SE, MBA,Ph.D, Prof. Christantius Dwiatmadja,SE, ME, Ph.D, serta Prof Dr Gatot Sasongko,SE, ME.

Dalam disertasi tersebut, Dani Harun mengulas tentang kebijakan inovatif Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mencapai keunggulan kompetitif dan komparatif sektor pertanian, yang dilakukan melalui implementasi teknologi informasi kartu tani.

Dikatakan ayah dua anak ini bahwa program kartu tani diperkenalkan kepada para petani di 35 kabupaten/kota pada 2015.

“Salah satu sasaran capaian program ini adalah memperbaiki tata kelola pupuk dengan asas 6 tepat yaitu tepat jumlah, jenis, waktu, tempat, mutu, dan harga. Dengan demikian, Kartu Tani bisa menjadi alat kendali tata kelola pupuk dari aspek perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Namun, adopsi petani terhadap kartu tani belum memenuhi target, meskipun akhir-akhir ini terjadi percepatan penerimaan dan pendayagunaan kartu tani sebagai bagian dari komponen usaha tani,” terang Dani Harun.

Hal tersebut dikatakannya disebabkan oleh sejumlah faktor. Diantara beberapa faktor penyebab, satu diantaranya adalah adanya perbedaan implementasi metoda introduksi program Kartu Tani untuk mencapai tahap internalisasi.

Disebutkannya bahwa pemerintah melakukan pendekatan keharusan (compulsory), sedang penyuluhan dan petani menginginkan pendekatan pilihan (voluntary).

“Kesenjangan dalam proses internalisasi program Kartu Tani ini mendasari saya untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Berdasarkan pemikiran saya hal ini dapat diatasi dengan pembangunan persepsi positif terhadap keberadaan kartu tani. Prosesnya melalui edukasi kepada para petani dengan membangun persepsi; disebut dengan kartu tani yang terpersepsikan,” jelas Dani Harun.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved