Kelompok Teroris Jemaah Islamiyah Raih Dana Rp 15 Miliar/tahun

JI memiliki upaya sendiri dalam mencari pendanaan melalui sejumlah organisasi binaannya untuk melakukan penggalangan dana.

Editor: Vito
TRIBUNNEWS/RIZKI SANDI SAPUTRA
Kepala Bagian Bantuan Operasi Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri Kombes Pol Aswin Siregar (kanan) memberi keterangan dalam konferensi pers, di Gedung Divisi Humas Mabes Polri, Kamis (25/11). . 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Kepala Bagian Bantuan Operasi Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri, Kombes Pol Aswin Siregar menyebut, kelompok teroris Jemaah Islamiyan (JI) di Indonesia mencari pendanaan untuk membiayai aktivitas dan eksistensinya.

Hal itu disampaikan Aswin terkait dengan penangkapan tiga terduga teroris oleh Densus 88 di Bekasi, pada 16 November 2021 lalu, termasuk satu pengurus aktif Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Terkait dengan ditangkapnya tiga orang terduga teroris JI, Aswin menyatakan, mereka mencari pendanaannya sendiri.

"Waktu zaman Al-Qaeda itu sumber pendanaannya itu memang datang dari luar, tetapi setelah itu tutup karena freeze atau dibekukan. Hasilnya, aset-asetnya dengan sanksi PBB yang dikeluarkan. Sehingga akhirnya mereka harus mencari sumber dana sendiri," ungkapnya, dalam konferensi pers, di Gedung Divisi Humas Mabes Polri, Kamis (25/11)..

Ia menyebut, kelompok teroris JI memiliki upaya sendiri dalam mencari pendanaan melalui sejumlah organisasi binaannya untuk melakukan penggalangan dana.

Adapun, lembaga-lembaga yang sampai saat ini berhasil diungkap oleh tim Densus 88 Polri yakni Baitul Maal Abdurrahman Bin Auf (BM ABA), dan Syam Organizer (Syam Amal Abadi).

"Banyak lembaga yang mereka buat untuk melakukan fundraising. Ada yang Baitul Maal Abdurrahman bin Auf (BM ABA) yang kita tahu itu. Lalu ada SAM Organizer," tuturnya.

Dari hasil pemeriksaan terhadap para tersangka yang sudah ditangkap, Aswin mengungkapkan, diketahui bahwa lembaga pendanaan Syam Organizer alias Syam Abadi itu berhasil menggalang dana dari dari kegiatan fundraising hingga Rp 15 miliar per tahun.

”Contohnya Syam ini terungkap dalam pemeriksaan, pendapatannya hampir Rp 15 miliar per tahun. Itu baru yang masuk dalam hitungan laporan keuangan," jelasnya.

Menurut dia, jumlah uang senilai Rp 15 miliar per tahun tersebut baru masuk hitungan di dalam laporan yang diterimanya. Ia memastikan jumlah tersebut bisa melebihi yang saat ini telah dalam laporannya.

”Jadi itu baru yang masuk dalam hitungan laporan keuangan, karena kita tahu dengan sistem sel terputus yang mereka buat dengan menghindari pencatatan-pencatatan ataupun record-record yang formal, jumlah ini jauh lebih fantastis dibandingkan dengan apa yang bisa kita ungkap dalam bentuk laporan,” ungkapnya.

Aswis mengungkapkan, seluruh aktivitas teroris terlaksana jika ada pihak yang terlibat sebagai donatur atau pendanaan dalam organisasi tersebut, seperti halnya JI.

Menurut dia, aktivitas atau kegiatan teroris dikhawatirkan terus berlangsung apabila kelompok tersebut tetap memiliki pendanaan. Sehingga, pendanaan terorisme harus dihentikan. "Kami jelaskan, bahwa pendanaan teroris adalah napas dan darahnya, hidup matinya kelompok teror," ucapnya.

Tak hanya di Indonesia, Aswin menuturkan, pendanaan juga menjadi faktor utama keberlangsungan organisasi terorisme di negara lain. Untuk bisa mendapatkan sumber dana beberapa kelompok terorisme melakukan berbagai usaha.

"Ini memang bukan cuma di kita (Indonesia-Red), seluruh dunia, kelompok-kelompok ini berusaha untuk terus mendapatkan sumber dana dari manapun. Aktivitas teroris tidak akan eksis apabila tidak ada pendanaan terhadap kelompok tersebut," jelasnya.

Seperti diketahui, Densus 88 menangkap tiga tersangka teroris JI, yakni Farid Okbah, Ahmad Zain An-Najah, dan Anung Al Hamad di daerah Bekasi pada 16 November 2021. Zain An-Najah merupakan Ketua Dewan Syariah Lembaga Amil Zakat Baitul Maal Abdurrahman bin Auf (BM ABA), dan Farid Okbah adalah anggota Dewan Syariah LAZ BM ABA.

Zain juga merupakan anggota Komisi Fatwa MUI yang saat ini status kepengurusannya telah dinonaktifkan. Sementara, Farid Okbah adalah pendiri Partai Dakwah Rakyat Indonesia (PDRI), dan Anung Al Hamad adalah pendiri 'Perisai', suatu badan yang memberikan bantuan hukum bagi anggota JI yang tertangkap Densus 88 Polri.

Ketiganya ditangkap di tempat terpisah. Ahmad Zain An-Najah ditangkap di Jalan Merbabu Raya, Pondok Melati, Kota Bekasi sekitar pukul 04.39. Lalu, Ustaz Farid Okbah diketahui ditangkap sekitar pukul 04.43, di Jalan Yanatera, Jatimelati, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Sementara, Ustaz Anung Al-Hamat ditangkap di jalan Raya Legok Blok Masjid, Jatimelati, Pondok Melati, Kota Bekasi sekitar pukul 05.49. (Tribunnews/Rizki Sandi Saputra)

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved