Breaking News:

Berita Semarang

Dinas Perdagangan Kota Semarang Kecam Pihak yang Jual Beli Lapak di Pasar Tradisional

Maraknya fenomena jual beli lapak pasar tradisional menjadi perhatian Dinas Perdagangan Kota Semarang.

Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG/EKA YULIANTI FAJLIN
Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fravarta Sadman 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Maraknya fenomena jual beli lapak pasar tradisional menjadi perhatian Dinas Perdagangan Kota Semarang.

Jual beli lapak secara terang-terangan diposting di media sosial. Tindakan tegas tentu akan diberikan kepada pihak yang ketahuan memperjualbelikan lapak pasar tradisional. 

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fravarta Sadman menandaskan, tempat dasaran pedagang di semua pasar tradisional tidak boleh diperjualbelikan maupun disewakan kepada pedagang lain.

Baca juga: Miris! Besi Penutup Saluran Air di Semarang Banyak yang Hilang, Dicuri oleh Oknum Nakal

Baca juga: Siapa Saja Lawan Indonesia di Fase Grup Piala AFF 2020, Ada Juara Bertahan dan Musuh Bebuyutan

Hal itu sudah diatur dalam peraturan daerah. 

"Ketika kami tahu ada temuan memperjualbelikan lapak. Misalnya kita tahu dari media sosial surat izinnya diperjualbelikan. Tidak hanya di Johar saja, semua pasar, akan langsung kami cari," terang Fravarta, Selasa (7/12/2021). 

Pihaknya akan memanggil pihak yang memperjualbelikan lapak dan mencabut izin penggunaan tempat dasaran jika diketahui melakukan jual beli lapak atau menyewakannya kepada pedagang lain.

Lapak tersebut secara otomatis akan ditarik kembali. 

"Sesuai ketentuan tidak boleh memperjualbelikan lapak, izin mereka langsung kami cabut," ujarnya. 

Menurutnya, Dinas Perdagangan sudah menemukan beberapa kasus jual beli lapak yang dilakukan oleh pedagang, misalnya di Pasar Mrican.

Lapak yang dijualbelikan tersebut langsung ditarik. 

"Pedagang itu sampai nangis-nangis ke kami, ya sudah biarkan saja. Itu kan salah, ketentuannya kan memang tidak boleh," paparnya. 

Fravarta melanjutkan, Dinas Perdagangan akan lebih menghargai pedagang yang benar-benar ingin berdagang.

Pihaknya geram ketika ada pedagang yang sudah mendapat lapak justru dijual atau disewakan.

Baca juga: Tim Trauma Healing Guru-guru TK Ini Berikan Keceriaan Anak-Anak Korban Banjir di Pekalongan

Baca juga: Siapa Saja Lawan Indonesia di Fase Grup Piala AFF 2020, Ada Juara Bertahan dan Musuh Bebuyutan

Padahal, Pemerintah Kota Semarang memberikan hanya dengan membayar retribusi. 

"Kami dari pemerintah memberikan pada mereka hanya cukup bayar retribusi, kok malah mereka mau menyewakan atau menjualnya," geramnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved