Breaking News:

Berita Solo

Banyak Industri Kecil Tekstil di Solo Buang Limbah Cair di Sungai hingga Berwarna Keruh dan Bau

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo temukan banyaknya industri yang masih membuang limbah cair tanpa diolah ke sungai.

Penulis: Muhammad Sholekan | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG/MUHAMMAD SHOLEKAN
Kondisi salah satu sungai yang terletak di Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon air sungai berwarna hitam, Rabu (8/12/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo temukan banyaknya Industri Mikro, Kecil dan Menengah (IMKM) yang masih membuang limbah cair tanpa diolah ke sungai.

Tampak di salah satu sungai yang terletak di Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon air sungai berwarna hitam.

Kepala DLH Kota Solo Gatot Sutanto mengatakan pihaknya akan terus melakukan pendataan guna memfasilitasi penyediaan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) komunal untuk para IMKM.

Baca juga: Dorong Kualitas Pendidikan Sekitar Hutan, Perhutani Salurkan Bantuan Rp 10 Juta untuk TK di Blora

Baca juga: Rintis Durian Unggulan, Tabah Ingin Hidupkan Kembali Sentra Durian Desa Tegalombo

Baca juga: Gubernur Ganjar Pranowo Beri Waktu Dua Minggu pada Tiga Daerah di Jateng Percepat Vaksinasi

"Kami telah melakukan susur sungai, baik di sungai perkotaan seperti Kali Jenes, Kali Premulung, dan sebagainya maupun di sepanjang aliran Sungai Bengawan beberapa waktu lalu," ucapnya saat dikonfirmasi, Rabu (8/12/2021).

Gatot menuturkan, ada sejumlah zat pewarna tekstil yang langsung dibuang ke sungai tanpa melalui proses pengolahan limbah sehingga membuat air sungai berwarna dan berbau.

"Banyak IMKM pemilik usaha sablon, printing, dan sejenisnya belum mempunyai IPAL. Limbahnya itu langsung masuk ke saluran pembuangan (dirainase, red) di lingkungan mereka dan akhirnya masuk ke aliran sungai," terangnya.

Dia mengaku, pengelolaan limbah yang kurang baik ini berasal dari IMKM warga mengingat industri yang lebih besar notabene lebih mudah diawasi dan mudah melakukan penegakan aturan bila ada pelanggaran. 

"Memang perlu pembinaan dan bantuan dari Pemerintah dalam pengadaan IPAL industri komunalnya," jelasnya.

Namun, ada sejumlah persoalan dalam konteks peyediaan IPAL komunal ini. Selain karena biaya yang diperlukan mencapai ratusan juta, terkadang juga terkendala lokasi. 

"Tantangannya adalah IMKM ini biasanya tidak menetap di sebuah lokasi karena statusnya hanya mengontrak," jelasnya.

"Belum lagi IMKM itu tidak selalu ajek dalam operasionalnya jadi data harus dimatangkan. Kami harap tahun depan kami sudah ada data pastinya," tambahnya.

Terpisah, Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming membenarkan, Kali Jenes berubah menjadi merah pada beberapa hari lalu.

Baca juga: Gubernur Ganjar Pranowo Beri Waktu Dua Minggu pada Tiga Daerah di Jateng Percepat Vaksinasi

Baca juga: Tim Pencari Korban Lahar Dingin Gunung Merapi Temukan Jenazah Hendri Susanto Terpendam Pasir 3 Meter

Dirinya telah menerima laporan pencemaran tersebut dan akan memfasilitasi dengan pembuatan IPAL Komunal untuk pengelolaan limbah cair tersebut. 

"Airnya jadi merah ya kemarin (Senin-Red). Ya nanti harus disediakan IPAL, kalau masih nggak mau ya kami kasih teguran," tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved