Minggu, 24 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

OPINI

OPINI : Bebaskan Siswa Bercerita, Merdeka Belajar Masa Pandemi

BERCERITA itu penting dan menarik. Bisa menyampaikan nilai luhur kepada generasi berikutnya

Tayang:
PINTEREST
Ilustrasi Belajar Anak 

Oleh : Tri Yuli Setyoningrum, SPd

Guru SMAN 1 Blora dan Finalis Guru Inspiratif Nasional 2021


BERCERITA itu penting dan menarik. Bisa menyampaikan nilai luhur kepada generasi berikutnya. "Budaya bercerita sangat baik untuk menyampaikan nilai-nilai luhur pada generasi berikutnya," - Donna Widjadjanto, Penulis Novel.

Sepengal kutipan tersebut cukup menarik dan relevan jika dieratkan pada pembelajaran di era kekinian.

Terlebih lagi, pendidikan karakter pelajar Pancasila yang digulirkan oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi mencakup enam aspek yaitu berketuhanan, berkebhinekaan global, bergotong royong, kreatif, bernalar kritis, dan mandiri.

Khusus tentang berkebhinekaan global menjadi suatu hal yang menarik.

Berkebhinekaan global adalah profil pelajar Indonesia yang bisa mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitasnya dan tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya budaya baru yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa. (Puspeka: 2021)

Pertengahan November 2021, dunia maya dihebohkan dengan adanya kabar bahwa wayang adalah budaya negara lain.

Saat itu netizen seperti kebakaran jenggot. Komentar-komentar miring banyak bertebaran di dunia maya yang mengecam hal tersebut.

Ada satu komentar yang menghenyakkan pikiran saya: apakah kita hanya bisa menghujat saja namun tidak ada langkah yang kita ambil untuk menunjukkan usaha mempromosikan budaya kita.

Sebagai guru, tergerak melihat fenomena tersebut. Selama ini hanya bisa meratapi nasib saat budaya nasinoal diakui orang lain, namun belum ada usaha yang dilakukan agar hal itu tidak terjadi lagi.

Legenda Blora

Berdasakan pembelajaran Bahasa Inggris Narrative Text kelas X Semester 2, siswa tersebut kami ajak untuk menggali budaya lokal mereka, khususnya Legenda Blora. Dengan menggali nilai-nilai luhur budaya sendiri diharapkan siswa tidak akan lupa pada asal-usul dan budaya lokalnya.

Pada setiap awal pembelajaran, beragam pertanyaan selalu saya ajukan kepada siswa, salah satunya tentang apakah mengetahui tentang legenda yang ada di lingkungan sekitar siswa. Hampir semua siswa menjawab tidak tahu.

Namun saat saya tanya tentang drama korea apa yang sedang trend saat ini, mereka dapat menyebutkan dengan lancar cerita dan tokoh-tokoh yang memainkannya. Saya menegaskan pada siswa bahwa tidak salah untuk mengetahui budaya lain, tetapi siswa harus tetap mengenal dan mencintai budaya sendiri.

Melihat kenyaataan tersebut, sungguh tantangan yang berat dalam mengenalkan Legenda Blora kepada siswa. Saat refleksi pembelajaran, pertanyaan kembali terlontar pada siswa mengapa tidak tertarik pada Legenda Blora.

Dari jawaban yang ada diambil kesimpulan karena mengakses informasi tentang legenda sangat terbatas, kalau pun ada buku-buku tersebut tampilannya tidak menarik.

Dari hasil refleksi itulah, akhirnya bekerja sama dengan rekan guru Matematika Dewi Setyowati untuk membuat sebuah aplikasi berbasis android yang berisi Legenda Blora beserta permainan-permainan berdasarkan legenda-legenda tersebut. Aplikasi itu diberi nama THERA.

Adanya aplikasi THERA tersebut tentu sejalan dengan apa yang disampaikan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Iwan Syahril, saat memberikan sambutan pada Penganugerahan Guru Inspiratif di Jakarta pada tanggal 24 November 2021, “bahwa dalam gerakan merdeka belajar guru harus fokus pada tumbuh kembang siswa”.

Guru adalah jembatan agar siswa bisa berkembang dari tidak tahu menjadi tahu. Maka guru harus menjadi jembatan baik besar maupun kecil demi kemajuan generasi mendatang. Sesuai konsep merdeka belajar, guru harus melayani siswa dalam belajar. Maka Aplikasi THERA itu sebagai bentuk layanan yang berbeda pada proses pembelajaran untuk siswa.

Aplikasi THERA

Ada banyak tipe belajar siswa. Untuk siswa yang bertipe belajar audio visual, maka pembuat video pembelajaran tentang legenda Blora dibuat, dan di upload melalui youtube, kemudian dibagikan melalui grup whatsapp siswa. Untuk siswa bertipe pembelajar visual siswa bisa membaca legenda pada aplikasi THERA yang dilengkapi dengan gambar-gambar menarik.

Sedangkan untuk siswa yang bertipe kinestetik siswa bisa bermain di aplikasi THERA setelah menyelesaikan membaca legenda di aplikasi tersebut. Aplikasi ini berbasis android sehingga memudahkan siswa untuk mengaksesnya di mana pun dan kapan pun mereka mau.

Setelah siswa mendapatkan modelling yang cukup dari aplikasi dan video pembelajaran, siswa diharapkan bisa membuat karya legenda sendiri. Siswa diberi kebebasan dalam mengekspresikan karya. Siswa yang tertarik dengan gambar dan komik siswa diminta membuat komik digital.

Untuk siswa yang tertarik dengan storytelling, siswa diminta menceritakan legenda dalam Bahasa Inggris dan diunggah di youtube atau IGTV. Untuk siswa yang suka menulis, siswa disilakan membuat legenda di blog pribadi mereka. Dan siswa yang suka bernyanyi bisa membuat lagu untuk menceritakan legenda mereka.

Salurkan bakat

Guru membentuk kelompok sesuai bakat dan minat mereka. Guru peduli dan mendampingi siswa dalam proses pembuatan karya. Kepedulian itu diwujudkan dalam pemberian jam tambahan. Untuk siswa yang suka membuat komik, guru memberi tambahan jam pelajaran untuk menyampaikan materi tentang cara membuat komik digital dengan aplikasi Canva.

Bagi siswa yang suka storytelling, guru memberi tambahan pembelajaran tentang bagaimana teknik bercerita. Selain itu guru memberi kesempatan pada siswa untuk mengonsultasikan karyanya agar diberi umpan balik sebelum karya diunggah ke media sosial mereka.

Berdasarkan umpan balik tersebut siswa akan memperbaiki karya mereka sehingga layak untuk dipublikasikan.

Dengan diberi kebebasan untuk mengekspresikan diri, ternyata hasil karya siswa luar biasa. Mereka dengan bangga mengunggah karya mereka di media sosial masing-masing. Saat refleksi di akhir pertemuan siswa menyatakan selain bangga karena mereka bisa menghasilkan karya, mereka juga bangga dengan budaya lokal legenda beserta nilai-nilai moralnya.

Kita mempunyai harapan besar di waktu yang akan datang, budaya kita tidak diakui oleh negara lain, karena generasi milenial sudah mengambil langkah untuk mempromosikan budaya lokal mereka dengan cara yang mereka sukai bukan karena mereka terpaksa. Itulah arti merdeka belajar yang sebenarnya. (*)

Baca juga: Seusai Ribut Nonton Dangdut, 2 Pemuda Blora Hilang Lalu Ditemukan Tewas di Sungai

Baca juga: Hotline Jateng : Apa saja Syarat Wajib Perjalanan Menuju ke Jawa Tengah

Baca juga: Tertipu Polisi KW, Gadis Karawang Terlanjur Pamer Pakai Baju Bhayangkari, Ternyata Pacarnya Satpam

Baca juga: Kecelakaan Bus Rombongan Siswa SPN Jambi Terbalik Ditabrak Truk, 1 Orang Tewas dan 19 Luka-Luka

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved