Berita Semarang

Jerit Petani Cabai Lereng Gunung Slamet di Tengah Meroketnya Harga Pestisida dan Minimnya Stimulus

Kesejahteraan para petani cabai di Jateng tergadaikan dengan adanya cuaca buruk.

Penulis: budi susanto | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG/SAIFUL MA'SUM
Ilustrasi. Sejumlah petani cabai di Temanggung merawat tanamannya agar tumbuh bagus dan menghasilkan cabai yang melimpah, Kamis (26/11/2020). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kesejahteraan para petani cabai di Jateng tergadaikan dengan adanya cuaca buruk, serta tak stabilnya harga komoditas pertanian yang terkenal dengan kepedasannya tersebut. 

Naiknya harga pestisida serta sejumlah bahan kimia untuk perawatan tanaman di 2021 juga menambah beban para petani

Selain itu, minimnya stimulus pendanaan yang digelontorkan pemerintah untuk para petani di beberapa wilayah berdampak pada kesempatan petani cabai untuk berkembang. 

Kondisi tersebut berlawanan dengan kontribusi sektor pertanian yang memiliki sumbangsih terhadap peningkatan perekonomian. 

Tercatat sektor pertanian memiliki andil cukup besar dalam peningkatan perekonomian di Jateng bahkan di tengah pandemi. 

Data dari Badan Pusat S​tatistik (BPS) pada 5 Februari lalu, pertanian menjadi satu di antara lapangan usaha utama yang menyokong perbaikan perekonomian Jateng pada triwulan IV 2020.

Bahkan pertumbuhan lapangan usaha pertanian dicatat oleh BPS mengalami peningkatan cukup pesat sebesar 7,56 persen.

Meski demikian, para petani masih merasa pemerintah kurang memperhatikan nasib dan kesejahteraan para petani.

Tak terkecuali yang di alami Sutrisno, petani cabai dari Desa Ceklatakan Pulosari Kabupaten Pemalang. 

Petani yang mengandalkan pertanian cabai di lereng Gunung Slamet untuk mencukupi kebutuhan keluarganya itu menjerit, lantaran kondisi pertaniannya tak menentu. 

"Beberapa waktu lalu harga cabai di tingkat petani sempat anjlok, harga cabai satu kilogram Rp 4 ribu sampai Rp 5 ribu," kata Sutrisno, Jumat (10/12/2021). 

Kendati kini harga cabai mulai beranjak normal, namun ia mengakui nasib para petani seperti digadaikan dan tidak ada yang memperhatikan. 

"Baru satu bulan ini harga naik jadi Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu. Di tingkat petani dengan harga sekarang tidak begitu untung karena melambungnya harga pestisida, bahan kimia untuk pertanian, pupuk, cuaca buruk yang berdampak pada gagal panen, dan minimnya pendanaan dari pemerintah yang membuat petani cabai harus berjibaku dan berjuang sendiri," ujarnya. 

Diterangkan Sutrisno, cuaca buruk berakibat pada penyusutan hasil panen cabai mencapai 50 persen lebih. 

"Produksi cabai di wilayah kami turun, untuk satu hari kini hanya 5 ton lebih. Turunnya hasil pertanian diiringi melambungnya harga pestisida, misalnya harga fungisida dulu Rp 60 ribu sekarang jadi Rp 120 ribu," ucapnya. 

Ia memaparkan, di tengah buruknya kondisi pertanian pemerintah tak hadir bahkan hingga kini belum ada bantuan baik pupuk maupun stimulus pendanaan. 

"Hal itu sangat disayangkan, karena petani sebagai pondasi perekonomian justru kurang diperhatikan. Kami tak ingin harga cabai melambung tinggi, yang kami harapkan pemerintah hadir untuk mencari solusi agar petani tidak selalu merugi," imbuhnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved