Breaking News:

Berita Semarang

Cegah Lonjakan Covid-19, DPRD Kota Semarang Minta Pengawasan Aktivitas Selama Nataru Dijalankan

DPRD Kota Semarang meminta pengawasan kegiatan masyarakat sesuai Instruksi Wali Kota Semarang terkait perayaan Nataru bisa dijalankan. 

Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: moh anhar
Tribun Jateng/ Eka Yulianti
Ketua DPRD Kota Semarang, Kadarlusman 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - DPRD Kota Semarang meminta pengawasan kegiatan masyarakat sesuai Instruksi Wali Kota Semarang terkait perayaan Nataru bisa dijalankan. 

Ketua DPRD Kota Semarang, Kadarlusman meminta, Pemerintah Kota Semarang bersama aparat TNI dan Polri bisa bekerja sama melakukan pengawasan di setiap wilayah selama Nataru.

Pengawasan di pasar, objek wisata, restoran, tempar hiburan, dam tempat lainnya yang diprediksi menimbulkan kerumunan diperketat.

Bahkan, lebih spesifik lagi pemantauan di tingkat paling bawah, yakni RT dan RW. 

Baca juga: Ikut Vaksin, Madelian Bocah SD di Kendal Dapat Hadiah Sepeda Baru

Baca juga: Nia Ramadhani Sempat Didoktrin Artis Lain untuk Pakai Narkoba, Hakim: Siapa Dia?

Masing-masing RT diharapkan bisa mendata warganya yang berpergian ataupun warga yang datang.

Ini untuk memudahkan penelusuran jika ditemukan kasus Covid-19

"Jadi, ini lebih fokus. Tingkat paling kecil mudah di kontrol. RT RW bisa mendata warganya yang berpergian atau dikunjungi. Misal ada klaster baru ditemukan, itu gampang ditracing," papar Pilus, sapaannya, Rabu (22/12/2021). 

Pilus mendukung kebijakan Nataru yang dikeluarkan oleh Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. Dia mendukung aturan tersebut agar tidak ada lonjakan ataupun ledakan Covid-19.

Apalagi, varian Omicron sudah ditemukan di Indonesia. 

Dia pun setuju kebijakan wali kota masih memberikan kesempatan bagi sektor seni, budaya, dan pariwisata tetap berjalan.

Menurutnya, pemkot melakukan pembatasan selama Nataru namun juga tetap memberikan kesempatan untuk beraktivitas ekonomi. 

"Warga diimbau tidak berpergian ke luar kota. Kalau hiburan seni budaya ditiadakan, nanti blunder. Warga akan mengalami sebuah kebuntuan.

Baca juga: Kades Blora Buka Pintu Darurat Pesawat Layaknya Pintu Bus, Beruntung Pas Tidak di Langit

Baca juga: Kala Gatyt Tak Kuasa Tangis Saat kakinya Dibasuh Saat Hari Ibu

Solusinya, seni budaya masih dibuka dengan pembatasan.  Harapannya, supaya warga lokal tidak keluar. Mereka bisa menikmati di lingkungan sendiri.

Kalau warga lokal diberi kesempatan menonton dengan prokes, insyaallah tidak terjadi ledakan. Begitu juga pariwisata tetap dibuka tapi ada kapasitas," terangnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved