Breaking News:

Kemah Rohis Virtual SMA/SMK, Kemenag: Belajar Agama Tidak dari Guru Jadikan Pendangkalan Pemahaman

Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Jawa Tengah menggelar Kemah Kerohanian Islam (Rohis) Virtual Ke 3 jenjang SMA/SMK.

istimewa
Kepala Kanwil Kemenag Jateng, Mustain Ahmad saat memberikan sambutan pada Kemah Rohis Virtual SMA/SMK di Jateng 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Jawa Tengah menggelar Kemah Kerohanian Islam (Rohis) Virtual Ke 3 jenjang SMA/SMK se-Jawa Tengah.

Kemah Rohis tersebut digelar secara daring atau online selama tiga hari, Selasa-Kamis (21-23/12/2021).

Ketua DPP AGPAII, Mahnan Marbawi menyampaikan, acara ini merupakan Kemah Rohis satu-satunya di Indonesia yang diselenggarakan secara virtual.

"Kemah Rohis memberikan ruang perjumpaan yang kuat dan penghargaan yang tinggi terhadap perbedaan. Sehingga anak Rohis memiliki tingkat kreativitas yang tinggi dan kepedulian yang tinggi terhadap problem kemanusiaan juga pendidikan," kata Mahnan dikutip pada Rabu (22/12/2021).

Marbawi berharap agar Kemah Rohis virtual ini menjadikan anak Rohis memiliki cara berfikir baru terkait cara beragama yang lebih santun dan moderat.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Tengah, Musta’in Ahmad menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan kesempatan yang baik untuk menempa diri.

"Selain itu juga untuk terus memperkuat keberagamaan para pelajar di era keterbukaan informasi. Hari ini informasi tanpa dicari bisa datang dengan sendiri melalui gadget, laptop, dan lain sebagainya. Dampaknya, masyarakat bisa mendapatkan banyak ilmu, informasi, pengetahuan, dan segala hal termasuk tentang agama," jelasnya.

Di satu sisi, semangat keagamaan masyarakat semakin tumbuh. Di sisi lain informasi keagamaan sangat mudah ditemui.

"Bisa jadi orang mendapatkan informasi agama secara sepotong-sepotong, belajar agama tidak dari guru agama. Hal ini menjadikan pendangkalan dalam pemahaman agama, bisa menjadi pemahaman yang keliru bahkan bisa sesat," ujar Musta’in.

Menurutnya, problematika yang dihadapi bangsa saat ini adalah ketegangan masyarakat yang terjadi antar-agama, antar-suku, dan lain-lain.

Kerukunan masyarakat Indonesia bisa terganggu karena antar-kelompok merasa benar juga diiringi perilaku yang berlebihan.

Ia mengatakan, jika masyarakat Indonesia sibuk bertengkar satu sama lain maka kemajuan bangsa Indonesia akan tertinggal dari bangsa lain.

Waktu dan energi habis digunakan untuk bertengkar sehingga tidak bisa belajar, bekerja, dan beribadah dengan baik. Jika itu terjadi maka bangsa Indonesia tidak bisa berprestasi dengan baik.

"Kami ingin kehidupan sosial kita tetap tumbuh dengan suasana dinamis, harmonis, rukun, dan bersatu. Dengan begitu, kita semua bisa belajar, bekerja, dan beribadah dengan baik kemudian berprestasi dengan baik," tandasnya.(mam)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved