Berita Video
Video Kerukunan Antarumat Beragama di Pati, Masjid dan Gereja Terhubung Kanopi
Jalan selebar sekira lima meter itu menjadi “penghubung” sekaligus “pembatas” antara masjid dan Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Winong
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: abduh imanulhaq
TRIBUNJATENG.COM, PATI - Berikut ini video kerukunan antarumat beragama di Pati, Masjid dan Gereja terhubung kanopi.
Seiring lantunan azan dari pengeras suara, jemaah salat jumat perlahan mulai memenuhi Masjid Al-Muqorrobin yang berada di Jalan Kolonel Sunandar Gang VI, Desa Winong, Kecamatan Pati, Jumat (24/12/2021) siang.
Tak hanya bagian dalam masjid, jemaah salat jumat juga menempati terpal biru yang digelar di jalan umum depan masjid.
Jalan selebar sekira lima meter itu menjadi “penghubung” sekaligus “pembatas” antara masjid dan Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Winong yang berada tepat di depannya.
Di atas jalan tersebut terdapat kanopi yang menaungi. Kanopi itu menempel pada bangunan masjid dan gereja, saling terhubung.
Sebelum azan kedua dikumandangkan, hanya beberapa langkah dari jemaah masjid yang tengah menunaikan salat sunah, tampak beberapa orang di pelataran gereja tengah menata dekorasi Natal.
Pendeta GKMI Winong, Didik Hartono, mengatakan bahwa kanopi yang menghubungkan masjid dan gereja menjadi simbol kerukunan antarumat beragama.
"Kanopi ini jadi wujud persatuan, persaudaraan. Dulu yang punya inisiatif teman-teman dari masjid. Sekira 6 atau 7 tahun lalu.
Takmir masjid menyampaikan rencana untuk membuat kanopi yang satu sisinya menempel di gereja," ujar dia.
Pendeta Didik setuju. Menurutnya, yang penting secara teknis tidak mengganggu jalan umum.
Selain sebagai simbol persatuan, kanopi itu juga secara praktis berguna bagi masjid maupun gereja.
"Kalau kami ada acara, tidak perlu lagi pasang tenda atau tratak. Dulu kalau Natal atau di masjid ada kegiatan, harus pasang tratak," ungkap dia.
Didik menuturkan, bangunan GKMI Winong berdiri sejak 1991. Sementara masjid berdiri belakangan, sekira 2002.
Adapun dirinya mulai melayani umat GKMI Winong sejak Januari 2004.
"Selama saya 17 tahun memimpin jemaat di sini, relasi dengan teman-teman masjid hangat dan cair.
Komunikasi terjalin, saling pengertian, saling menghargai, sangat terasa sekali. Jadi walaupun kami berhadap-hadapan selama ini tidak ada masalah," kata dia.
"Mudah-mudahan ke depan tetap terus saling menjaga, saling menghargai," tambah Pendeta Didik.
Terjalin baiknya komunikasi antara pengurus gereja dan takmir masjid, terang dia, paling kentara ketika ada jadwal ibadah yang berbenturan.
"Pernah Idulfitri pas hari Minggu. Kami menyadari salat id pasti pagi.
Sementara ibadah Minggu kami juga pagi pukul 7. Akhirnya kami dan takmir masjid bersepakat, ibadah gereja kami undur jadi pukul 9," tutur dia.
Sebaliknya, jemaah masjid juga menyesuaikan kegiatannya apabila gereja punya acara besar.
"Pernah ketika gedung gereja ini dan kami dimandirikan sebagai gereja mandiri. Acara kami bersamaan dengan jam pengajian bapak-bapak masjid.
Saya dengar dari bapak-bapak, pengajian tetap jalan, tapi tidak di masjid, melainkan di rumah jemaah," ujar dia.
Pendeta Didik menegaskan bahwa tidak akan ada masalah yang mengganjal apabila komunikasi antarumat beragama terjalin baik sebagai saudara yang saling menjaga.
Ia menuturkan, bangunan GKMI Winong sendiri juga memiliki ornamen-ornamen yang menyimbolkan kerukunan umat beragama.
Di atas pintu masuk gereja, terdapat aksara Jawa bertuliskan "Nderek Gusti" dan gambar karakter pewayangan Punakawan.
"Nderek Gusti, artinya umat ketika masuk ke tempat ibadah, menyadari diri sebagai pengikut Tuhan yang harus tunduk mendengarkan apa yang disabdakan-Nya.
Kesadaran ini digambarkan dengan Punakawan yang merupakan abdi, hamba," kata dia.
Adapun di dalam gereja, ornamen salib besar diletakkan dengan latar belakang gunungan wayang.
"Ini sebagai simbol bahwa membangun iman umat harus tetap mengakar pada budaya lokal. Jangan sampai keberagamaan kita membuat kita tercabut dari akar budaya kita," tegas Pendeta Didik.
Ketika jemaat keluar gereja dan menghadap jalan, di tembok bagian atas, mereka bisa melihat lukisan tiga tokoh dari tiga agama berbeda.
Di tengah terdapat lukisan Abdurrahman Wahid alias Gusdur yang mewakili Islam. Kemudian di sisi kiri terdapat lukisan Bunda Teresa yang mewakili Katholik. Adapun di sisi kanan terpajang lukisan Mahatma Gandhi yang mewakili Hindu. Ketiga lukisan itu dibatasi oleh beton penyangga atap
"Kebetulan hanya tiga (lukisan tokoh yang dipasang) karena plongnya (ruang kosong di dinding) cuma tiga. Tapi yang jelas itu menggambarkan keberagaman," kata Didik.
Ia berharap, setelah dibentuk di dalam gereja, ketika melangkah ke dunia luar umat bisa mewujudkan keimanannya dalam keseharian dengan mengasihi sesama manusia yang beragam.
Ketua Takmir Masjid Al-Muqorrobin, Santrimo, juga menegaskan bahwa kerukunan antara jemaah masjid dan gereja terjalin dengan baik.
"Warga rukun. Kami juga ada pertemuan di tingkat RW, semua umat beragama tidak ada masalah. Toleransinya bagus. Sejak saya masih remaja, antarumat beragama sering berkegiatan bersama, misalnya saat 17-an," ungkap dia.
Dia menuturkan, bangunan GKMI Winong lebih dulu ada. Masjid baru didirikan pada 2002.
"Sejarahnya dulu perumahan hanya memberi tanah untuk musala, tapi warga ingin punya masjid. Akhirnya dibeli tanahnya oleh masyarakat secara gotong royong.
Pembangunannya juga swadaya dari infak, sedekah warga. Antara lain kotak infak Jumatan seperti ini," tutur Santrimo.
Dia menuturkan, tanah berdirinya masjid ini, sebagaimana tanah perumahan, sebelumnya merupakan milik SMP BOPKRI.
Adapun saat ini masjid sudah bersertifikat resmi. Sertifikatnya disimpan di balai desa.
Sepanjang sejarah pertetanggaan dengan gereja, terang Santrimo, jemaah masjid tidak pernah mengalami konflik sosial.
Kedua kelompok umat beragama justru saling bertoleransi. (mzk)
TONTON JUGA DAN SUBSCRIBE :