Breaking News:

Berita Pekalongan

Ketua Dekranasda Kota Pekalongan: Batik Eco-Print Upaya Mengurangi Limbah Batik

Batik eco-print, dikenal sebagai salah satu jenis kain yang tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki nilai seni yang sangat tinggi.

Penulis: Indra Dwi Purnomo | Editor: galih permadi

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Sebagai upaya untuk mengurangi limbah batik dan pengembangan jenis usaha untuk para pelaku UMKM maupun untuk para pemula, Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) Kota Pekalongan bekerjasama dengan Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dindagkop UKM) setempat mengadakan pelatihan batik eco-print di Museum Batik Kota Pekalongan, Senin (27/12/2021).

Batik eco-print, dikenal sebagai salah satu jenis kain yang tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki nilai seni yang sangat tinggi.

Karena, dibuat dengan cara mereplika daun, bunga, tumbuhan ke dalam kain.

Tidak hanya menarik, batik eco-print juga sangat ramah lingkungan karena menggunakan bahan alami sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.


"Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan pengalaman pelatihan eco-print bersama para istri kepala daerah di Bogor, kemudian saya share di medsos dan ternyata warga Pekalongan banyak sekali yang tertarik dan ingin tahu apa itu eco-print."


"Sehingga, hari ini saya ingin, mencoba menggenalkan batik eco-print kepada masyarakat Kota Pekalongan. Alhamdulillah, hari ini bisa terealisasi pelatihan eco-print kerjasama dengan Dindagkop-UKM," kata Ketua Dekranasda Kota Pekalongan Inggit Soraya.


Menurut Inggit, batik eco-print merupakan salah satu pengembangan craft di Kota Pekalongan dan memiliki potensi yang bagus, karena bahan yang digunakan mudah didapat di lingkungan sekitar dan yang paling utama ramah lingkungan. 


"Batik Eco-Print berbeda dengan batik cap atau batik tulis, karena kalau batik cap atau tulis menggunakan lilin atau malam dalam proses pembuatannya.

Sedangkan ini, pewarnaannya murni dari warna alam, dari daun, bunga atau tanaman, kemudian ditata di kain, digulung dan dikukus setelah itu mengeluarkan motif atau warna yang sangat cantik," ujarnya.


Inggit berharap, setelah peserta mengikuti pelatihan semoga bisa dapat mengembangkan, menekuni dan dapat membagi ilmu yang didapat kepada keluarga, teman, dan masyarakat sekitar. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved