Kecelakaan

Trio TNI AD Tabrak-Buang Tubuh Handi dan Salsa Tak Mengira Bakal Viral, Puskampol Komen Menohok

Kasus tiga anggota TNI yang kejam membuang dua remaja Nagreg ke sungai memantik perhatian semua pihak.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: Daniel Ari Purnomo
Tribunnews.com/Istimewa
Penampakan tiga orang yang diduga membuang tubuh Handi dan Salsabila setelah kecelakaan di Nagreg belum lama ini. (ISTIMEWA) 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Kasus tiga anggota TNI yang kejam membuang dua remaja Nagreg ke sungai memantik perhatian semua pihak.

Termasuk Pusat Kajian Militer dan Kepolisian (Puskampol).

Koordinator Puskampol Andy Suryadi menyebut, tragedi tersebut menjadi bukti betapa aparat di Indonesia baik TNI maupun Polri tak peka bermedia sosial.

Rendahnya kepekaan aparat yang dimaksud dosen Unnes itu bukan berarti aparat gaptek sehingga tak bisa bermain media sosial.

Akan tetapi aparat tak paham aktivitas mereka dapat direkam.

Kemudian rekaman tersebut dapat dijadikan tekanan atau menyerang balik ke mereka melalui kanal media sosial.

"Sikap aparat yang arogan di jalanan maupun tindakan yang kurang pas di jalan dengan mudah direkam dan dijadikan bukti untuk menyerang balik dari apa yang mereka lakukan," terangnya saat dihubungi Tribunjateng.com, Senin (27/12/2021).

Ia menyebut, telah banyak kasus yang viral di media sosial yang melibatkan aparat TNI dan Polri tapi tak bikin aparat kapok.

Hal itu menjadi bukti para anggota di dua lembaga tersebut masih kurang peka terhadap media sosial.

Semisal kasus di Nagreg yang mana kasus itu ramai atas video yang beredar tiga orang berpenampilan sama berupa rambut cepak dengan mobil pelat khusus membawa dua remaja yang baru saja mereka tabrak.

Belakangan baru diketahui ketiga orang tersebut adalah anggota TNI.

Ketiga aparat itu tak menyadari bahwa aksinya terjadi di tempat umum yang bisa saja direkam oleh siapapun baik foto, video, atau kamera CCTV.

Meski demikian, para pelaku dengan santainya membuang para korban ke sungai tanpa memikirkan bahwa aksi mereka bisa saja direkam masyarakat. 

"Mereka seolah-olah hidup di masa lampau yang semuanya susah diakses pembuktiannya," tandasnya. (Iwn).

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved