Breaking News:

IKAPPI Beri Rapor Merah untuk Kementan dan Kemendag soal Lonjakan Harga Pangan

IKAPPI mencatat beberapa komoditas di luar dugaan mengalami kenaikan yang tidak wajar, dan baru pertama kali ini terjadi.

Editor: Vito
Tribun Jateng/ Idayatul Rohmah
iluastrasi - Pedagang sayur di Pasar Karangayu Semarang menunjukkan cabai dagangannya, Senin (29/11/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) mengeluhkan beberapa harga komoditas pangan menjelang akhir tahun ini mengalami kenaikan yang tinggi.

"Dalam catatan IKAPPI menjelang perpindahan tahun 2021-2022, beberapa komoditas di luar dugaan mengalami kenaikan yang tidak wajar, dan baru pertama kali ini terjadi," kata Sekretaris Jenderal DPP IKAPPI, Reynaldi Sarijowan, saat dihubungi, Selasa (28/12).

Menurut dia, harga komoditas yang mengalami lonjakan tinggi yaitu minyak goreng, cabai rawit merah, dan telur ayam.

"Tiga komoditas ini cukup mengagetkan masyarakat, khususnya emak-emak. Ini membuat kami semua menjadi cukup sulit menghadapi perpindahan tahun ini," ujarnya.

"Jujur, kami IKAPPI tidak menduga bahwa kenaikan harga pangan yang relatif panjang dan tinggi ini terjadi di akhir 2021," tambahnya.

Reynaldi menjelaskan, kenaikan harga minyak goreng yang signifikan belum pernah terjadi selama ini. Hal itu terjadi karena harga minyak kelapa sawit (CPO) dunia melambung, sehingga harga minyak goreng curah dan kemasan ikut naik.

"Kami berharap pemerintah mengantisipasi dan melakukan upaya lanjutan, sehingga pada 2022 harga minyak goreng segera bisa turun," ujarnya.

Untuk cabai rawit merah, Reynaldi menuturkan, merupakan komoditas yang rutin terjadi kenaikan harga di akhir tahun, karena cuaca dan tidak seimbangnya permintaan dengan pasokan.

"Kami berharap ke depan ada grand design pangan, strategi pangan untuk cabai rawit merah, agar wilayah-wilayah produksi cabai rawit merah bisa diperbanyak dan bisa menyelesaikan persoalan ini, sehingga harganya tidak tinggi setiap tahun. Tahun lalu sudah terjadi mencapai Rp 100 ribu/kg, hari ini terjadi kembali, bahkan Rp 100 ribu lebih per kilogram," paparnya.

Sementara untuk harga telur ayam yang biasanya Rp 23 ribu-Rp 24 ribu per kilogram, Reynaldi menyebut saat ini tembus Rp 30 ribu per kilogram.

"Ini adalah pencapaian yang menurut kami buruk, dan kami berharap agar harga telur bisa diantisipasi dengan strategi design telur dan ayam yang baik ke depan," tandasnya.

"Tiga catatan ini membuat kami memberikan rapor merah kepada Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian," tambah Reynaldi. (Tribun Network)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved