Breaking News:

Guru Berkarya

Mencegah Pernikahan Dini Melalui Koseling Pra-Nikah Dengan Pendekatan Realitas

Manusia dengan segala potensinya terus berkembang sesuai tahap perkembangannya masing-masing.

Editor: abduh imanulhaq
IST
Dwi Okta Yustitia SPd, Guru SMKN 1 Karangdadap Kab Pekalongan 

Oleh: Dwi Okta Yustitia SPd, Guru SMKN 1 Karangdadap Kab Pekalongan

MANUSIA dengan segala potensinya terus berkembang sesuai tahap perkembangannya masing-masing. Individu harus menempuh beberapa tahapan masa perkembangannya. Dalam proses pertumbuhan melewati masa perkembangannya individu akan menemui beberapa kendala yang mungkin dapat berakibat pada gagalnya atau kurang maksimalnya tugas perkembangannya. Peserta didik SMK atau usia remaja biasanya cenderung mengalami hambatan dalam tugas perkembangannya. Eksistensi sebagai individu yang memiliki kemampuan, dan ingin merasa lebih dari yang lain terkadang tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di lingkungan keluarga, sekolah serta lingkungan lainnya.

Sebagai anak usia remaja peserta didik dihadapkan dengan problematika sesuai tahap perkembangannya. Salah satunya adalah pernikahan usia dini di kalangan remaja. Pernikahan dini adalah Menurut WHO, pernikahan dini (early married) adalah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan atau salah satu pasangan masih dikategorikan anak-anak atau remaja yang berusia dibawah usia 19 tahun. Pernikahan usia dini bisa terjadi karena beberapa faktor, diantaranya faktor Pendidikan dan hamil di luar nikah. Dalam kaitannya dengan tahap perkembangan remaja, peserta didik dihadapkan dengan mulai tertariknya dengan lawan jenis, hal ini sangat rentan terhadap perilaku pacaran anak usia remaja atau anak sekolah yang cenderung ke arah seks bebas.

Sekolah sangat berperan penting sebagai salah satu faktor penentu berhasil atau tidaknya seorang remaja melewati masa pubertas dengan baik dan memaksimalkan segala potensinya. Melalui Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Karangdadap berupaya membentengi peserta didiknya agar tidak terjerumus dalam pernikahan anak usia dini.

Layanan yang diberikan guru BK menjadi bagian integral yang sangat diharapkan peserta didik. Melalui layanan Konseling individu berbasis pendekatan realitas guru BK di SMKN 1 Karangdadap berupaya mencegah peserta didik kelas XII yang memiliki kecenderungan pada tugas perkembangan pubertasnya yang menyimpang dari norma yang berlaku, seperti ketertarikan yang berlebihan atau biasa disebut “Pacaran”.

Guru BK Sebagai terapis sebagaimana yang disampaikan Corey  (2010 Konseling & Psikoterapi, hal 266) Terapi realitas menekankan pertimbangan-pertimbangan nilai. Terapi realitas menempatkan pokok kepentingannya pada peran klien dalam menilai kualitas tingkah lakunya sendiri dalam menentukan apa yang membantu kegagalan yang dialaminya. Pada terapi ini guru BK melalui konseling individu berusaha mengajak berpikir tentang nilai-nilai atau perilaku yang dihasilkan dari apa yang telah diperbuat.

Guru BK juga menstimulus konseli untuk menilai contoh-contoh figur yang sudah terlanjur melakukan pernikahan anak usia dini, melihat dan mengamati bersama para korban pernikahan anak usia dini, bagaimana mereka menyelesaikan atau memandang suatu masalah dalam keluarga, dampak emosinya, kematangan ekonominya dan keputusan dalam mendidik anak-anak mereka. Terapi realitas menekankan konseli dilatih menetukan sikap baik buruknya suatu keputusan yang akan mereka buat.

Konseli Bersama guru BK diajak bertanggungjawab atas perilaku yang diperbuat. Dengan begitu konseli mampu berpikir dan menentukan sikap yang baik untuk dirinya. Konseli dapat membentengi dirinya dari pikiran-pikiran yang tidak realtistis akibat dimabuk asmara di usia remaja, sehingga perilaku pernikahan usia dini akibat dari cara bergaul yang salah, ketertarikan lawan jenis (bersifat pacaran yang cenderung seks bebas) yang bisa mengakibatkan kehamilan dan berujung pada pernikahan usia dini dan putusnya sekolah dapat dicegah. Proses konseling individu terapi realitas ini sangat efektif dibuktikan pada tiga tahun terakhir tidak adanya siswa yang putus sekolah akibat kehamilan yang berujung pada pernikahan anak usia dini atau di kalangan pelajar di SMKN 1 Karangdadap. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved