Breaking News:

Penutupan Perdagangan BEI 2021, Airlangga: Kita Rebound Relatif Cepat

Pada akhir perdagangan 2021, IHSG melemah 0,29 persen di level 6.581,48. Namun, sepanjang 2021 IHSG mengalami peningkatan 10,08 persen.

Editor: Vito
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Pengunjung melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (30/12/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA – Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) 2021 resmi ditutup pada Kamis (30/12).

IHSG berakhir di zona merah dengan melemah 0,29 persen di level 6.581,48. Meski demikian, sepanjang 2021 IHSG mengalami peningkatan 10,08 persen.

Penutupan perdagangan Bursa yang tadinya akan dilakukan Presiden Joko Widodo, digantikan oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.

Dalam sambutannya, Airlangga mengungkapkan bahwa perkembangan ekonomi dan pasar modal merujuk pada pemulihan ekonomi global terkait dengan dampak pandemi covid-19, serta berkaitan dengan kenaikan harga energi.

Di sisi lain, ia menilai, kasus Evergrande, gagal bayar perusahaan properti di China, akan mulai terlihat efeknya di 2022. Demikian juga dengan potensi tapering off dari The Fed yang mendorong tingkat suku bunga di AS lebih rendah dari inflasi.

Airlangga menyampaikan apresiasi atas pencapaian BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atas kinerjanya dalam setahun ini.

Ia menyoroti pertumbuhan penyaluran kredit perbankan di 2021, kenaikan jumlah investor pasar modal, dan minat perusahaan untuk melakukan initial public offering (IPO) atau pencatatan saham perdana.

“Kita juga melihat optimisme dari penanganan covid-19. Sampai November, kinerja perbankan dalam pertumbuhan penyaluran kredit sudah 4,82 persen, demikian juga dengan peningkatan 7,8 juta investor yang masuk retail dan kinerja IPO, sehingga aset pasar modal dikuasai oleh investor dalam negeri. Untuk itu, selamat kepada seluruh stakeholder pasar modal. Meskipun pandemi, kita rebound relatif cepat,” ujarnya.

Sepanjang 2021, BEI mencatatkan penghimpunan dana dari penawaran umum perdana saham atau IPO yang naik 1.022,35 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi mengatakan, tahun ini total penghimpunan dana IPO mencapai Rp 62,61 triliun yang berasal dari 54 perusahaan. Sementara tahun lalu, terdapat IPO sebanyak 51 perusahaan dengan dana yang dihimpun Rp 5,58 triliun.

"(Tahun ini) sebanyak 54 perusahaan yang mencatatkan saham di BEI, fund raised Rp 62,61 triliun, yang merupakan penggalangan dana tertinggi sepanjang sejarah BEI,” katanya, secara virtual, Kamis (30/12).

Pencapaian positif turut tercermin dari meningkatnya minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.

Total jumlah investor di pasar modal Indonesia per 29 Desember 2021 telah meningkat 92,7 persen menjadi 7,48 juta investor, dari sebelumnya 3,88 juta investor per akhir Desember 2020.

Inarno menyatakan, jumlah itu meningkat hampir tujuh kali lipat dibandingkan dengan posisipada 2017. Secara khusus, pertumbuhan investor ritel pada 2021 ditopang kalangan Milenial (kelahiran 1981-1996) dan Gen Z (kelahiran 1997-2012), atau rentang usia 40 tahun.

Kenaikannya mencapai 1,51 juta atau 88

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved