Breaking News:

OJK: Milenial kini Banyak Nabung di Saham

pertumbuhan investor ritel pada tahun lalu di luar dugaan, karena pada 2020 hanya 3,8 juta, dan sekarang mencapai 7,5 juta.

Editor: Vito
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Pengunjung melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (30/12/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuka perdagangan saham awal 2022 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (3/1).

Usai dibuka, mengutip data RTI pada pukul 09.01, Indeks harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 0,19 persen, atau 12,54 poin ke posisi 6.594,02, di mana ada 185 saham menguat, 118 saham melemah, dan 253 saham tidak mengalami perubahan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat terdapat pertumbuhan investor pasar modal yang luar biasa sepanjang 2021, di mana kalangan milenial turut meramaikan pasar modal Indonesia.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso mengatakan, pertumbuhan investor ritel pada tahun lalu di luar dugaan, karena pada 2020 hanya 3,8 juta, dan sekarang mencapai 7,5 juta.

"Ini menunjukkan banyak investor-investor, terutama investor ritel, dan ini saya sampaikan milenial yang tadinya banyak konsumsi sekarang banyak nabung, terutama di saham," tuturnya.

Selain itu, dia menambahkan, penghimpunan dana di pasar modal pada tahun lalu telah mencapai Rp 363 triliun dari 94 emiten di berbagai sektor.

"Ini lebih tinggi dari 2020 yang hanya Rp 118 triliun, bahkan ini lebih tinggi sepanjang sejarah, lebih tinggi dari pertumbuhan kredit. Mudah-mudahan ini tanda yang bagus untuk investasi ke depan," bebernya.

Wimboh menilai, capaian tersebut tidak lepas dari upaya pemerintah dan semua pihak dalam menangani pandemi covid-19 yang telah menekan berbagai sektor ekonomi.

"Terima kasih kepada Presiden dan kabinet yang telah menangani covid ini dengan luar biasa, sehingga memberikan kepastian kita untuk berusaha, dan bangkit kembali membangun ekonomi. Kita bisa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan lainnya seperti semula," tandasnya.

Adapun, dalam sambutannya, Presiden Jokowi menyebut, ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi semua pihak pada tahun ini, mulai covid-19 varian Omicron, hingga sentimen global seperti tapering off.

Tapering off adalah pengurangan stimulus moneter yang dikeluarkan bank sentral (The Fed) saat perekonomian sedang terancam dan membutuhkan banyak suntikan dana likuiditas.

Hal ini dilakukan The Fed dengan mengurangi ukuran program pembelian obligasi yang dikenal sebagai pelonggaran kuantitatif (Quantitative Easing/QE).

"Tahun 2022, kita tahu masih akan banyak tantangan-tantangan yang akan kita hadapi, baik Omicron, kenaikan inflasi, dan tapering off," jelasnya.

Selain itu, dia menambahkan, persoalan kelangkaan kontainer di berbagai negara juga dapat mengganggu kinerja ekspor Indonesia, yang bisa berdampak terhadap perekonomian.

"Saya kira tantangan inilah yang akan kita hadapi, dan saya meyakini dengan semangat kerja keras bersama, tantangan-tantangan itu akan kita lalui dengan baik," ucapnya. (Tribun Network)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved