Demonstrasi Kazakhstan Ricuh, 1.000 Orang Lebih Terluka, Polisi Tembak Puluhan Demonstran

Kerusuhan pecah di kota-kota di seluruh Kazakhstan, ketika ribuan orang dengan marah memprotes kenaikan harga bahan bakar yang tajam.

Editor: Vito
Abduaziz MADYAROV / AFP
Petugas polisi anti huru hara menghalau pengunjuk rasa di jalanan pusat kota Almaty, Rabu (5/1/2022). 

ALMATY, TRIBUN - Kerusuhan pecah di kota-kota di seluruh Kazakhstan pada Rabu (5/1), ketika ribuan orang dengan marah memprotes kenaikan harga bahan bakar yang tajam, dan memicu pengunduran diri pemerintah negara Asia Tengah itu.

Kementerian Kesehatan Kazakhstan pada Kamis (6/1) mencatat lebih dari 1.000 orang terluka akibat kerusuhan yang terjadi di negara dalam beberapa hari terakhir.

"Lebih dari 1.000 orang terluka akibat kerusuhan yang terjadi di beberapa wilayah Kazakhstan. Hampir 400 orang dirawat di rumah sakit, dan 62 orang berada dalam perawatan intensif," kata kata Wakil Menteri Kesehatan Kazakhstan, Azhar Guiniyat, kepada stasiun televisi Khabar-24, sebagaimana dikutip AFP.

Adapun, demonstrasi besar-besaran itu tersulut ketika pemerintah mencabut kontrol harga pada bahan bakar gas cair (LPG) pada awal tahun, menurut laporan Reuters.

Padahal, banyak orang Kazakh telah mengubah mobil mereka untuk menggunakan bahan bakar jenis itu, karena biayanya yang rendah.

Ribuan warga yang marah kemudian menyerbu bangunan pemerintah dan menjarah toko.

Akibat demo besar-besaran ini, kabinet pimpinan Perdana Menteri Kazakhstan, Askar Mamin, mengundurkan diri secara massal.

Seorang jurnalis lokal mengatakan kepada CNN bahwa ribuan orang berdemonstrasi di luar kantor wali kota di Almaty pada Rabu (5/1).

"Lebih dari 10.000 orang di gedung administrasi kota, kami menyebutnya Akimat. Mereka telah mengepungnya," papar Serikzhan Mauletbay, wakil pemimpin redaksi Orda.kz.

Ia menyatakan, granat kejut digunakan dan ada semacam api, menurut video langsung Instagram yang dia tonton dari tempat kejadian.

Wartawan lain menggambarkan adegan kekacauan itu dan mengatakan mereka bisa mendengar dan melihat apa yang mereka yakini sebagai ledakan granat kejut dan tembakan dilepaskan, tetapi tidak jelas asal suara tembakan itu.

Polisi di Kazakhstan dilaporkan membunuh puluhan pengunjuk rasa yang mencoba menyerbu gedung administrasi pada Rabu (5/1) malam di kota terbesar di negara itu, Almaty. Hal tersebut disampaikan polisi Kazakhstan kepada media lokal pada Kamis (6/1).

"Tadi malam, pasukan ekstremis mencoba menyerang gedung administrasi, departemen kepolisian kota Almaty, serta komisariat polisi setempat," ujar juru bicara polisi Saltanat Azirbek, seperti dikutip oleh kantor berita Interfax-Kazakhstan, TASS, dan Ria Novosti.

"Puluhan penyerang dieliminasi," katanya, seraya menambahkan bahwa polisi sedang memverifikasi identitas mereka.

Menurut media lokal yang dikutip AFP, Kementerian Dalam Negeri Kazakhstan mengatakan, setidaknya delapan petugas penegak hukum tewas dan 317 terluka dalam kekerasan tersebut.

Kazakhstan yang kaya minyak, negara terbesar kesembilan di dunia berdasarkan daratan, telah menarik investasi asing dan mempertahankan ekonomi yang kuat sejak kemerdekaannya.

Tetapi metode pemerintahan otokratisnya kadang-kadang memicu kekhawatiran internasional, dengan pihak berwenang menindak keras protes, menurut kepada kelompok hak global. (Kompas.com/CNNIndonesia.com)

 

Sumber: Kompas.com
  • Baca Juga
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved