BRIN Jadi 'Superbody Riset' di RI: Jangan Meremehkan Peneliti Muda
kalau peneliti yang muda-muda itu diberikan kesempatan, pasti bisa perform, tidak hanya yang S3 saja yang bisa perform
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini menjadi induk lembaga yang membawahi puluhan entitas riset di Indonesia.
BRIN merupakan lembaga pemerintah yang dibentuk di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo dan direncanakan menjadi "superbody riset" di Tanah Air.
Nama BRIN mendapat sorotan dalam beberapa waktu terakhir, lantaran proses peleburan puluhan lembaga riset membuat ratusan peneliti kehilangan pekerjaan mereka.
Proses peleburan lembaga riset ke dalam tubuh BRIN pun pada akhirnya membuat banyak pihak bertanya mengenai arah pemerintah dalam mengelola riset dan inovasi di Tanah Air.
Beberapa pihak menilai, peleburan lembaga riset ke dalam BRIN serta nasib peneliti di dalamnya yang berstatus sebagai ASN bakal memengaruhi kemajuan riset Indonesia ke depan.
Ilmuwan-ilmuwan non-ASN dan tanpa gelar S3 Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman dipaksa menyingkir dengan meleburnya lembaga tersebut ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Situasi itu seolah mencerminkan paradigma negara yang meremehkan kapabilitas para ilmuwan Eijkman yang bergelar sarjana (S1) maupun magister (S2).
Padahal, selama ini, LBM Eijkman dibesarkan bukan hanya peneliti utama lulusan S3, melainkan oleh para periset yang rela menghabiskan waktunya bertahun-tahun di laboratorium tertentu, dan menjadi ahli di bidang tersebut.
Eks Kepala LBM Eijkman, Amin Soebandrio menceritakan bagaimana ia membesarkan Eijkman sejak 2014, justru dengan membuka kesempatan sebesar-besarnya bagi asisten riset bergelar sarjana maupun magister.
"Pada 2014, ketika saya masuk di Eijkman, jumlah publikasi itu sekitar 30-an per tahun, dihasilkan oleh kurang dari 30 orang, sekitar 26-27 peneliti senior," katanya, dalam diskusi daring yang digelar Narasi Institute, Jumat (7/12).
"Tapi kemudian kebijakan yang saya ambil, saya memberikan kesempatan dan dorongan buat para peneliti. Semuanya, tidak harus itu S3 atau profesor. Yang masih S1 pun kalau dia sudah melakukan penelitian dan bisa menulis, tentu tetap dalam bimbingan dengan seniornya, kita bisa publikasikan," tambahnya.
Menurut dia, hal itu berhasil membuat Eijkman lebih produktif dalam menelurkan riset. Kurun 2018-2019, Amin menuturkan, menjadi periode puncak produktivitas Eijkman dengan total publikasi mencapai 60 dalam setahun.
"Jadi, satu orang minimum menghasilan dua publikasi per tahun. Dari situ, kita bisa melihat bahwa kalau peneliti yang muda-muda itu diberikan kesempatan, pasti bisa perform, tidak hanya yang S3 saja yang bisa perform," paparnya.
Ia juga memberi contoh lain, bahwa di LBM Eijkman, ada seorang peneliti yang mulanya masuk hanya sebagai "yang membantu di laboratorium" pada 10-15 tahun silam. Berkat minat dan rasa keingintahuan yang tinggi, ia terpilih untuk disekolahkan hingga lulus S2.
"Kami tidak menyangka, baru beberapa bulan lalu beliau bisa menyelesaikan penelitian S3-nya, walaupun jatuh bangun sampai sakit. Padahal hanya dari tenaga yang sifatnya hanya membantu penelitian. Dari situ, pesannya, kita tidak bisa meremehkan tenaga peneliti yang bukan S3," tandasnya. (Kompas.com/Vitorio Mantalean)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-riset2.jpg)