Breaking News:

IT Telkom Purwokerto

E-Commerce, Betulkah Membantu Produk Lokal?

Hasil survei sosial demografi dampak COVID-19 menyebutkan bahwa 9 dari 10 responden melakukan aktivitas berbelanja online.

Editor: abduh imanulhaq
IT TELKOM PURWOKERTO
Dr Tenia Wahyuningrum SKom MT, Wakil Rektor I Institut Teknologi Telkom Purwokerto 

Oleh: Dr Tenia Wahyuningrum SKom MT, Wakil Rektor I Institut Teknologi Telkom Purwokerto

SEJAK World Health Organization (WHO) menyatakan Covid-19 sebagai pandemi global (Sohrabi et al., 2020), semua negara merasakan dampaknya, termasuk Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tiga jenis lapangan usaha yang paling terdampak yaitu perdangangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor (70,39 persen), transportasi dan pergudangan (62,60 persen), serta penyediaan akomodasi dan makan minum (76,84 persen).

Hasil survei sosial demografi dampak Covid-19 menyebutkan bahwa 9 dari 10 responden melakukan aktivitas berbelanja online. Sebanyak 31 persen responden mengalami peningkatan aktivitas belanja online selama pandemi, 28 persen mengalami penurunan, sisanya tetap (Putranto et al., 2020).

Kebijakan untuk stay at home dari pemerintah menjadikan kecenderungan berbelanja online sebagai kebiasaan baik yang dipilih masyarakat kota dan desa sebagai upaya pencegahan penularan Covid-19. Akan tetapi, masalah yang dihadapi oleh pelaku usaha di bidang perdagangan, terutama pedagang kecil dan beberapa sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menegah (UMKM) belum dapat beradaptasi secara digital dan belum siap dalam menyediakan memanfaatkan platform online sebagai sarana jual beli (Arianto, 2020).

Dilansir melalui Gatra.com (Oktober 2021), hasil riset MarkPlus menggunakan metode survei menunjukkan bahwa terjadi peningkatan penjualan produk lokal di kanal online secara signifikan. Meskipun demikian, hanya 18 persen UMKM di Indonesia yang mampu beradaptasi dengan e-commerce. Tokopedia dinilai sebagai e-commerce yang paling banyak diminati oleh konsumen yang membeli produk lokal (51 persen), diikuti oleh Shopee (40,8 persen), Lazada (4 persen), Bukalapak (3,4 persen), JD.ID (0,4 persen), dan Blibli (0,4 persen) (Mutaqin, 2021).

Data lain yang ditemukan dari survei ini, ada 5 (lima) produk lokal favorit konsumen e-commerce Indonesia yaitu fesyen (63,8 persen), makanan dan minuman (49,4 persen), produk rumah tangga (48,2 persen), mainan & hobi (40,6 persen), serta produk ibu & bayi (36,2 persen). Persentase pembagian alasan responden dalam memilih Tokopedia sebagai platform yang mendukung produk lokal didasarkan pada ragam program yang dinilai menguntungkan pelanggan seperti diskon untuk produk lokal (75,7 persen) serta sering digelarnya program yang menampilkan berbagai produk lokal (42,7 persen). Selain itu, kemajuan perkembangan e-commerce juga menyediakan platform digital yang paling banyak digunakan masyarakat yang disebut social commerce.

Infrastruktur digital dinilai sangat penting untuk mendukung Program Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia dan meningkatkan potensi ekonomi digital Indonesia mencapai angka 1,8 Triliun Rupiah pada tahun 2025. Oleh karena itu, sudah saatnya pelaku UMKM segera mengadopsi penggunaan digital dalam pengembangan unit usahanya. Dengan begitu potensi pasar yang besar ini tidak diambil oleh produk-produk luar negeri (Arianto, 2020). Untuk itu ada tiga hal yang perlu diperhatikan oleh pelaku UMKM ketika ingin masuk ke ranah digital yaitu; kualitas produksi, kapasitas produksi, dan literasi digital.

Konsistensi kualitas produk lokal perlu dijaga, sebab industri rumah tangga jika mendapatkan pemesanan yang banyak, tentu akan membutuhkan tambahan jumlah SDM, yang belum tentu dapat dipenuhi karena akses modal yang masih kurang. Kekurangan lain pada produk UMKM adalah packaging atau pengemasan yang kurang menarik dan kurang kuat, sehingga tidak dapat dijual secara online (Novalius, 2018). Para pelaku UMKM perlu didukung oleh orang-orang yang kompeten dalam mendampingi penerapan transformasi digital di perusahaannya dengan kolaborasi dan kerja sama dari masyarakat, pemerintah, pelaku usaha dan akademisi.

Salah satu bentuk dukungan bagi UMKM antara lain Program Kewirausahaan Sosial (ProKUS) yang telah dijalankan Banyumas Digital Valey, inkubator bisnis dari Institut Teknologi Telkom Purwokerto bekerja sama dengan kementerian sosial. ProKUS merupakan program lanjutan dari Program Keluarga Harapan (PKH) untuk melatih secara mandiri Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dengan potensi usaha yang dimiliki, agar usaha mereka berkembang lebih pesat lagi. Kerja sama ini merupakan upaya yang positif dalam meningkatkan perekonomian masyarakat Indonesia. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved