Breaking News:

Dialog AS-Rusia soal Ukraina Buntu, Genderang Perang Ditabuh di Eropa

Keggagalan perundingan AS dengan Rusia itu menimbulkan krisis keamanan Eropa, terkait dengan pengerahan pasukan Rusia di perbatasan dengan Ukraina.

Editor: Vito
Anatolii STEPANOV / AFP
Seorang prajurit pasukan militer Ukraina bersiaga di parit garis depan, perbatasan dengan Rusia, di dekat Avdiivka, tenggara Ukraina, 8 Januari 2022. 

TRIBUNJATENG.COM, WINA - Amerika Serikat (AS) menyebut genderang perang ditabuh dengan keras di Eropa, karena pembicaraan antara Barat dengan Rusia soal Ukraina menemui jalan buntu.

Hal tersebut disampaikan Utusan AS untuk Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE), Michael Carpenter, dalam pertemuan yang digelar pada Kamis (13/1/2022), di Wina.

Berbicara kepada wartawan setelah pertemuan tersebut, Barat harus mempersiapkan jika ketegangan dengan Moskow semakin meningkat, sebagaimana dilansir Reuters.

Adapun, Rusia diketahui telah mengerahkan puluhan ribu pasukannya di perbatasan Ukraina, membuat khawatir Barat dan Kiev bahwa invasi akan dilakukan. Di sisi lain, Moskow mengatakan tidak berencana menyerang Ukraina.

Ketegangan Ukraina-Rusia terjadi menyusul langkah Ukraina yang ingin bergabung dengan NATO, sementara Rusia berharap Ukraina bergabung dengan Federasi Rusia untuk mengembalikan Uni Soviet.

Rusia menuntut agar NATO tidak melebarkan pengaruhnya ke timur. Rusia juga menuntut agar NATO tidak akan pernah mengizinkan Ukraina menjadi anggota aliansi tersebut.

Moskow juga meminta NATO menarik pasukannya dari negara-negara bekas Uni Soviet di Eropa yang bergabung dengan aliansi tersebut setelah Perang Dingin.

Carpenter mengatakan, Washington tidak akan memberikan pengaruh atau batasan sebuah negara untuk memilih aliansi mereka sendiri. "Saat ini, kami menghadapi krisis keamanan Eropa. Genderang perang ditabuh dan terdengar keras,” tuturnya.

Menurut dia, Rusia mengerahkan 100.000 tentaranya yang dilengkapi dengan persenjataan canggih, sistem artileri, sistem peperangan elektronik, dan amunisi di dekat Ukraina.

Ia menyatakan, hal itu menimbulkan banyak pertanyaan, apa sebenarnya niat Rusia. “Kami harus menganggap ini sangat serius. Kami harus bersiap untuk kemungkinan bahwa akan ada eskalasi,” ucapnya.

Sejauh ini, Carpenter menuturkan, Washington lebih memilih jalur dialog dan mengurangi eskalasi untuk mengurai ketegangan.

Diberitakan sebelumnya, Rusia menyebut pembicaraan keamanan dengan AS dan NATO gagal total. Moskow mengatakan, ada ketidaksepakatan yang terus berlangsung tentang masalah-masalah mendasar.

Juru Bicara Kantor Kepresidenan Rusia, Dmitry Peskov mengatakan pada Kamis, bahwa dua putaran pembicaraan, masing-masing di Jenewa dan Brussels, memang menghasilkan nuansa positif.

Tetapi, dia menambahkan, Moskow sedang mencari hasil yang konkret, sebagaimana dilansir Al Jazeera. (Kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved