BEI Optimistis Makin Banyak Unicorn Melantai di Bursa

sejak awal 2022 hingga 14 Januari 2002 sudah ada dua perusahaan mencatatkan saham di BEI dengan total dana dihimpun sebesar Rp 723 miliar.

Editor: Vito
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
ilustrasi - Pengunjung melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 30 perusahaan akan listing di pasar modal melalui penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna Setia mengatakan, sejak awal 2022 hingga 14 Januari 2002 sudah ada dua perusahaan mencatatkan saham di BEI dengan total dana dihimpun sebesar Rp 723 miliar.

Terkait dengan klasifikasi aset perusahaan yang saat ini berada dalam pipeline bursa, menurut dia, merujuk pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017 tercatat ada empat perusahaan aset skala kecil dengan nilai di bawah Rp 50 miliar.

"Selain itu ada 14 perusahaan aset skala menengah dengan aset antara Rp 50 miliar sampai Rp 250 miliar, dan 12 perusahaan aset skala besar di atas Rp 250 miliar," katanya, Sabtu (15/1).

Rincian sektor perusahaan yang akan IPO adalah empat perusahaan dari sektor industrial, empat perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals, dan sembilan perusahaan sektor consumer cyclicals.

Selain itu juga empat sektor technology, satu sektor healthcare, dua sektor energy, satu sektor financials, tiga sektor properties & real estate, dan dua dari sektor infrastructures.

Nyoman optimistis akan semakin banyak perusahaan teknologi yang akan segera mencatatkan sahamnya di BEI, seiring dengan bertumbuhnya unicorn baru di Indonesia, seperti Bukalapak yang telah menjadi emiten di pasar modal sejak 2021.

IPO Bukalapak (BUKA) sekaligus menorehkan sejarah sebagai unicorn pertama di pasar modal Indonesia dan di bursa kawasan ASEAN dengan total fundraised yang juga terbesar dalam dua dasawarsa terakhir, yaitu 1,3 miliar dolar AS atau Rp 21,9 triliun.

"Selain Bukalapak, kami juga menyambut tercatatnya PT Dayamitra Telekomunikasi (MTEL) pada November 2021 sebesar Rp 18,78 triliun yang juga sebagai IPO anak perusahaan BUMN terbesar yang merupakan perusahaan teknologi," jelasnya.

Menurut dia, saat ini pun diketahui telah ramai bermunculan unicorn baru di Indonesia, sehingga membuat Indonesia sebagai pencetak perusahaan dengan status unicorn terbesar di ASEAN.

Nyoman menyatakan, hal itu didukung adanya terobosan baru dari pasar modal Indonesia, seperti penerapan Saham dengan Hak Suara Multipel (SHSM) untuk IPO.

Kemudian, perubahaan peraturan Bursa No I-A yang memberikan pintu lebih luas bagi perusahaan dari berbagai sektor untuk tercatat di papan utama atau papan pengembangan, akan menambah minat unicorn mencatatkan saham di BEI.

"Kami optimistis inisiatif ini dapat disambut dengan baik, khususnya oleh perusahaan-perusahaan teknologi di Indonesia yang sedang berkembang pesat," tuturnya.

Namun, Nyoman tidak menyebut nama calon perusahaan unicorn yang sedang menjajaki untuk melantai di bursa.

"Terkait dengan nama calon perusahaan tercatat, Bursa belum dapat menyampaikan informasinya secara detil sampai dengan adanya izin publikasi dari OJK, sebagaimana diatur dalam POJK Nomor X.A.2," paparnya. (Tribunnews/Seno Tri Sulistiyono)

 

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved