Catatan Raffles Soal Letusan Tambora: Tiga Bola Api Raksasa dan Putri Raja yang Mati Kelaparan
Pohon-pohon besar tercerabut lalu diterbangkan bersama dengan kumpulan manusia, ternak, dan dan benda-benda lain dalam pusaran angin topan
Penulis: galih pujo asmoro | Editor: galih pujo asmoro
TRIBUNJATENG.COM - Gunung Hunga Tonga-Hunga Ha'apai di Tonga meletus Sabtu (15/1/2022).
Letusan gunung di bawah laut itu cukup besar.
Bahkan, letusan gunung itu memicu terjadinya tsunami hingga ke bibir pantai Amerika Serikat (AS) dan Jepang yang berjarak ribuan kilometer dari pusat letusan.
Di Indonesia, letusan dahsyat gunung api juga kerap terjadi.
Satu di antara yang terdahsyat adalah letusan Gunung Tambora atau Tomboro.
Letusan pada 10 April 1815 menempati skala 7 Volcanic Explosivity Index (VEI) di mana skala tertinggi adalah 8 VEI.
Sementara letusan Krakatau pada 27 Agustus 1883 berskala 6 VEI, atau sepersepuluh letusan Tambora.
Letusan "super kolosal" Tambora juga sudah tercatat sejarah.
Satu di antara catatan yang cukup lengkap adalah catatan Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java.
Dituliskan, bila pada 10 April sekitar pukul 19.00, tiga bola api besar keluar dari Gunung Tambora.
Tiga bola api itu lalu bergabung di udara dalam satu ledakan dahsyat.
Dalam waktu singkat, seluruh gunung tampak seperti bola api raksasa yang meledak ke segala arah.
Tidak berhenti di situ, mengutip The Histroy of Java, hujan batu yang beberapa di antaranya sebesar dua kepalan tangan kemudian terjadi.
Sekitar pukul 21.00-22.00, hujan abu disertai angin kencang melanda.
Di wilayah Sangir yang berbatasan dengan Tomboro, atap rumah beterbangan.
Pohon-pohon besar tercabut dari akarnya.
Pohon-pohon besar itu lalu diterbangkan bersama dengan kumpulan manusia, ternak, dan dan benda-benda lain dalam pusaran angin topan.
Bencana itu sangat dahsyat.
Tiga hari setelahnya, mayat-mayat masih bergelimpangan di tepi jalan.
Beberapa perkampungan tersapu bersih, rumah-rumah hancur.
Bahkan, salah satu Raja Sangir mati kelaparan.
"Mengerikan untuk dikisahkan," demikian laporan Letnan Owen Philips dari Bima pada Raffles.
Letusan Tambora juga menelan puluhan ribu korban jiwa.
Berdasarkan catatan serupa, di Tomboro dan Pekate berpenduduk sekitar 12 ribu jiwa.
Namun setelah letusan, hanya 6-7 orang saja yang selamat.
Berikut adalah isi laporan yang dibuat Letnan Owen Philips dari Bima di Pulau Sumbawa dalam The History of Java:
“Dalam perjalanan ke sebelah barat pulau ini, saya melewati seluruh wilayah Dompo dan sebagian Bima.
Bencana terbesar yang dialami penduduk sangat mengerikan untuk dikisahkan.
Mayat-mayat masih bergelimpangan di tepi jalan, dan di beberapa tempat perkampungan tersapu bersih, rumah-rumah hancur, penduduk yang masih hidup menderita kelaparan.
Raja Sangir telah menunggu saya di Dompo pada hari ketiga.
Menurutnya, jumlah kerusakan terbesar ada di Dompo.
Bencana itu begitu hebat hingga salah satu putrinya mati kelaparan.
Saya menyerahkan tiga karung beras yang diterimanya dengan penuh rasa terima kasih.
Karena raja menjadi saksi peristiwa tersebut, maka berikut ini adalah keterangan yang diberikannya:
Sekitar pukul 7 malam tanggal 10 April, terlihat 3 bola api besar keluar dari Gunung Tomboro (tampaknya berasal dari dasar kawah) dan kemudian ketiga bola api itu bergabung di udara dalam satu ledakan dahsyat.
Dalam waktu singkat, seluruh gunung dekat Sangir tampak seperti bola api raksasa yang meledak ke segala arah.
Ledakan bola api tersebut sangat dahsyat, sampai menimbulkan kegelapan yang diakibatkan berjatuhannya isi gunung yang terjadi pada pukul 8 malam.
Hujan batu lebat terjadi di Sangir, beberapa di antaranya sebesar dua kepala tangan, tapi rata-rata sebesar kerikil.
Antara pukul 9-10 malam, hujan abu mulai turun diiringi angin kencang, yang merobohkan hampir tiap desa di Sangir, dan menerbangkan atap-atap rumah.
Di daerah Sangir yang bebatasan langsung dengan Tomboro, kerusakannya lebih parah.
Pohon-pohon besar tercabut dari akarnya dan tebang di udara bersama dengan kumpulan manusia, ternak, dan dan benda-benda lain dalam pusaran angin topan (terbukti dengan adanya batang-batang kayu terapung di laut).
Gelombang laut setinggi lebih dari 12 kaki menyapu bersih dataran Sangir yang kecil, menyapu setiap rumah dan apa saja yang dijangkau.
Angin topan berlangsung selama 1 jam.
Tidak terdengar suara letusan selama terjadi angin topan, sampai jam 11 pagi.
Mulai tengah malam hingga sore tanggal 11, bencana terus berlangsung, kemudian semuanya mulai mereda, dan ledakan masih terdengar sesekali, tapi ledakan tidak berhenti sama sekali sampai tanggal 15 Juli.
Di seluruh desa yang ada di Tomboro, hanya Desa Tempo yang berpenduduk, 40 orang yang masih ada.
Di Desa Pekate tidak ada rumah yang tersisa; 26 orang yang saat itu ada Sumbawa adalah keseluruhan mereka yang selamat.
Menurut perhitungan saya, ada sekitar 12.000 orang di Tomboro dan Pekate saat terjadi letusan dan hanya 6-7 orang yang selamat.
Seluruh pohon dan tanaman di sepanjang sisi utara dan barat semenanjung hancur total, kecuali daerah dataran tinggi di ujung Desa Tomboro.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/sejarah-letusan-gunung-tambora-1815-dentumannya-terdengar-sampai-di-sumatera-dan-jawa.jpg)