Berita Kudus

Hartopo: Dinkes Harus Evaluasi dan Analisis Penyebab AKI dan AKB

Bupati Kudus meminta kepada dinkes evaluasi dan analisis penyebab kematian ibu dan bayi.

Editor: sujarwo
TribunJateng.com/Raka F Pujangga
Bupati Kudus, HM Hartopo, saat ditemui di Pendopo Kabupaten Kudus, Rabu (26/1/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Bupati Kudus HM Hartopo meminta kepada dinas kesehatan untuk melakukan evaluasi dan analisis permasalahan penyebab kematian ibu dan bayi.

Hal itu penting dilakukan sebagai satu di antara upaya dalam meminimalisir angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).

“Kami komitmen untuk menurunkan angka kasus kematian ibu dan bayi. Itu target kai,” kata Hartopo.

Tidak hanya AKI dan AKB. Stunting juga menjadi perhatian pihaknya. Diketahui, kasus AKI di Kudus pada 2021 sebanyak 21 kasus dan dan AKB sebanyak 96 kasus dari 13.911 kelahiran hidup. Sementara untuk kasus stunting sebanyak 2.713 kasus.

Hartopo menegaskan, komunikasi harus dijalin secara intensif dan tidak berakhir sebagai seremonial belaka. Mulai dari dokter hingga bidan desa harus diajak bekerja sama secara  aktif agar dapat menemukan solusi yang tepat.

Demikian juga rumah sakit rujukan harus siap menerima 24 jam. Pihaknya yakin, apabila dikerjakan bersama target segera tercapai.

“Kalau permasalahan ini hanya dikerjakan sendiri tentu saja tidak bisa selesai. Perlu adanya sinergitas, dan intens dalam upaya pencegahannya. Saya yakin adanya gotong royong dan kerja nyata, kita segera bisa menurunkan AKI AKB,” ujar Hartopo.

Hartopo mengatakan, bidan desa dan penyuluh bisa lebih mengintensifkan pemantauan pencegahan kematian ibu dan bayi.

Pemantauan para ibu dan anak bisa dimulai saat setelah menikah,  hamil sehingga anak usia dua tahun agar kondisi kesehatan dan gizinya bisa selalu diawasi.

Selebihnya, Hartopo mengajak tim pengarah, tim teknis, dan tim sekretariat bersama-sama bersinergi menganalisis penyebab kenaikan AKB dan AKI.

Sebelumnya, Hartopo juga sempat menyoroti ketersediaan ruang bersalin bagi ibu penderita Covid-19 dan nonpenderita saat kasus Covid-19 melonjak.

Saat meninjau dulu, pihaknya menemukan ruang bersalin telah penuh di semua rumah sakit.

Sehingga, ibu yang mau melahirkan kesulitan mendapatkan penanganan terbaik. Kala angka kasus di Kudus tinggi, ada kecenderungan para ibu tidak berani membawa anak-anak ke rumah sakit kalau tidak benar-benar sakit parah.

Kejadian tersebut ikut menyumbang angka kematian bayi yang tinggi di Kudus.

Setelah pertemuan ini, pihaknya meminta bidan desa bisa dilibatkan untuk pemantauan intensif dimulai dari ibu hamil.

“Semua bisa lebih mengintensifkan pemantauan mencegah kematian ibu dan bayi,” kata dia. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved