Puisi

Puisi Menyeberang Jembatan Aan Mansyur

Puisi Menyeberang Jembatan Aan Mansyur: Aku ingin mampu menceritakan apa yang kurasakan ketika

Penulis: iam | Editor: abduh imanulhaq
GRAMEDIA.COM
Aan Mansyur 

Puisi Menyeberang Jembatan Aan Mansyur

TRIBUNJATENG.COM - Puisi Menyeberang Jembatan Aan Mansyur:

Menyeberang Jembatan


Aku ingin mampu menceritakan
apa yang kurasakan ketika
berjalan sendirian di jembatan.
Ibuku penasaran kenapa aku
senang melakukannya. Dia tidak
mengerti waktu aku mengatakan:
aku memperoleh kebahagiaan
dari yang gentar gemetar di
diriku. Seperti jatuh cinta? Tidak,
Ibu. Dia diam dan aku merasa
kalah.


Perihal membosankan dan
percuma selalu lebih mampu
menemukan kata-kata untuk
mereka kenakan. Bagi yang
setengah-setengah, dan bagi yang
berdiri di tengah-tengah, kata-kata
semata jembatan yang seolah-olah
ada. Di diriku ada banyak perihal
yang terengah-engah tidak mampu
menyeberang ke jantung ibuku.
Mereka terpaksa menjadi rahasia
dan aku merasa bersalah.


*
Sejak kecil aku sering pergi
ke hutan. Aku membisikkan
pikiran dan perasaaanku yang
merahasiakan diri dari tinta kepada
pepohonan, sebelum mereka
ditebang dan berubah menjadi
pintu dan jendela, kursi dan meja,
atau buku-buku.
Setiap kali ibuku terpekur di
hadapan lemari, aku mungkin ada
di sana menemaninya. Ketika ibuku
berusaha membuat dirinya cantik
sekali lagi, rahasiaku barangkali
yang menggenggam cermin
untuknya. Jika ibuku tidur memeluk
diri sendiri, aku berharap ikut
menopang rindu dan tubuhnya
yang kesepian.


Dan andai dia menerima surat dari
suaminya, pikiranku sungguh ingin
bergetar di jari-jarinya. Perasaanku
sungguh ingin basah oleh air
matanya.


*
Ibuku masa lampau. Kenangan.
Dia selalu mampu mengecup
ingatanku, namun ingatanku kening
yang cuma mampu menunggu
dikecup. Kata-kataku selalu ingin
mampu menyentuh jantungnya,
namun mereka tidak punya jemari.


Puisi ini sama belaka. Sekumpulan
kata, batang-batang pohon mati,
yang bermimpi menjadi rumah
tanpa dinding. Semata memiliki
jendela, pintu, dan sesuatu yang
memeluki keduanya. Rumah yang
menunggu pertanyaan-pertanyaan
ibuku datang memberi penghuni.

(*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved