BI Target Pengguna QRIS Capai 15 Juta

penerapan sistem pembayaran digital yang berdampak positif bagi perekonomian nasional.

Editor: Vito
TRIBUN JATENG/DESTA LEILA KARTIKA
ilustrasi - Seorang pengunjung mempraktikkan penggunaan QRIS atau pembayaran non tunai di Pasar Slumpring, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menilai, aktivitas ekonomi tetap bisa berjalan meskipun sebagian masyarakat bertahan di rumah.

Hal itu karena penerapan sistem pembayaran digital yang berdampak positif bagi perekonomian nasional.

"Mari kita mendukung digitalisasi. Pembayaran digital mempercepat pemulihan ekonomi Republik Indonesia," katanya, dalam Webinar 'Casual Talks on Digital Payment Innovation' sebagai rangkaian pertemuan G20, Senin (14/2).

Menurut dia, BI sudah merancang digitalisasi sistem pembayaran sejak 2019. Tujuannya adalah untuk mengintegrasikan ekonomi keuangan, termasuk perbankan, financial technologi, e-commerce pada 2025.

Namun, pandemi covid-19 ternyata mempercepat proses tersebut. Perry menegaskan perlunya inisiatif kolaborasi untuk memperkuat industri pembayaran digital, baik itu digital banking, fintech, hingga e-commerce.

"Reformasi aturan menginginkan sistem pembayaran membentuk suatu kerja sama antara digital banking, fintech, dan e-commerce agar menjadi ekosistem yang membangun unicorn-unicorn atau lebih decacorn," ujarnya.

BI juga menekankan infrastruktur sistem pembayaran dengan 3I, yaitu interoperability, integration, dan interoperation. Pengembangan infrastruktur yang saat ini sudah eksisting adalah Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). "Misi pada 2022, QRIS menuju 15 juta pengguna baru," ucap Perry.

Ia menuturkan, transaksi QRIS terus meningkat sejalan dengan akseptasi masyarakat, baik nominal maupun volume, masing-masing meningkat sebesar 290 persen yoy dan 326 persen yoy.

Selanjutnya, BI akan melakukan uji coba QRIS antarnegara dengan Thailand dan Malaysia. "Tentu kita perlu bekerja sama dan memastikan inovasi dan meningkatkan mitigasi," pungkasnya.

Selain QRIS, ada juga BI-FAST untuk pembayaran digital banking yang telah tersedia di sejumlah bank nasional dan beroperasi 24x7.

Kemudian ada juga Standar Nasional Open API Pembayaran (SNAP) untuk memperkuat interlink perbankan dan fintech.

Perry menyatakan pentingnya kekuatan sinergi dan koordinasi. Hal ini dilakukan untuk bekerjasama mewujudkan mimpi membentuk digitalisasi sistem pembayaran Indonesia hingga digitalisasi ekonomi dan keuangan Indonesia.

"Kami membangun electronification for the vulnerable group, untuk transfer program sosial pemerintah. Kemudian, inter-mode transportation integration dan digitalisasi untuk UMKM atau digitalization of micro, small, and medium-sized enterprises (MSMEs)," jelasnya.

BI mencatat pada Januari 2022, nilai transaksi uang elektronik (UE) tumbuh 66,65 persen yoy mencapai Rp 34,6 triliun, sementara nilai transaksi digital banking meningkat 62,82 persen yoy menjadi Rp 4.314,3 triliun. (Tribun Network)

 

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved