Jumat, 12 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kendal

Lapak Tempe dan Tahu di Pasar Tradisional Kendal Tutup

Pedagang tempe dan tahu di Pasar Tradisional Kendal merealisasikan aksi mogok jualan.

Tayang:
Penulis: Saiful Ma sum | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG/SAIFUL MA'SUM
Lapak tempe dan tahu di Pasar Tradisional Kendal kosong, Senin (21/2/2022). Pedagang tempe dan tahu libur jualan selama 3 hari karena tidak ada stok dari perajin. 

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Pedagang tempe dan tahu di Pasar Tradisional Kendal merealisasikan aksi mogok jualan mulai hari ini, Senin (21/2/2022), selama tiga hari.

Pantauan tribunjateng.com di Pasar Kota Kendal, lapak pedagang tempe dan tahu tutup untuk mengikuti anjuran dari Pusat Koperasi

Lapak tempe dan tahu di Pasar Tradisional Kendal kosong, Senin (21/2/2022). Pedagang tempe dan tahu libur jualan selama 3 hari karena tidak ada stok dari perajin.
Lapak tempe dan tahu di Pasar Tradisional Kendal kosong, Senin (21/2/2022). Pedagang tempe dan tahu libur jualan selama 3 hari karena tidak ada stok dari perajin. (TRIBUNJATENG/SAIFUL MA'SUM)

Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) Jawa Tengah.

Kondisi yang sama terjadi di Pasar Pagi Kaliwungu, Pasar Sidorejo Brangsong, dan sejumlah pasar lainnya.

Di Pasar Tradisional Kota Kendal, belasan lapak tempe tahu kosong.

Tak ada satu pun pedagang tempe dan tahu yang berangkat ke pasar.

Termasuk pedagang yang juga berprofesi sebagai perajin tempe dan tahu.

Aksi mogok ini dilakukan agar pemerintah mendengar keluh kesah perajin tempe dan tahu atas tingginya harga kedelai saat ini.

Mereka merasa tercekik karena harga bahan pokok kedelai tembus Rp 11.000 per kilogram.

Sedangkan perajin tidak bisa menaikkan harga tempe dan tahu kepada tengkulak (bakol).

Haryati (55), pedagang gorengan mengaku sudah mempersiapkan terlebih dahulu stok tempe dan tahu untuk dijual pada Senin ini.

Dia sudah membeli stok tempe dan tahu dua kali lipat pada, Minggu (20/2/2022) agar tetap bisa jualan untuk kebutuhan satu hingga dua hari.

Namun demikian, Haryati tidak berani 'nyetok' kebutuhan tiga hari karena khawatir rasa tempe dan tahunya tidak enak meski disimpan di kulkas.

"Kalau hari biasanya, saya kulakan tempe sekitar 50 biji. Macam-macam ukurannya, ada yang besar dan kecil. Kemarin Minggu, saya beli lebih banyak untuk stok Senin dan Selasa. Gak berani 'nyetok' untuk Rabu, takut nanti rasa tempe sudah enggak enak lagi," terangnya.

Jika stok habis, Haryati tetap akan berjualan gorengan dengan bahan seadanya.

Misal, berjualan bakwan goreng, ketela goreng, dan beberapa jenis gorengan lainnya selain tempe dan tahu.

"Mulai hari ini, saya siasati jualannya mendowan, karena lebih sedikit menggunakan tempenya. Harga juga enggak naik. Protes pelanggannya, kalau harga naik. Ya saya sesuaikan saja dengan yang saya dapat di pedagang," ujar dia.

Hal yang sama juga terjadi di Pasar Pagi Kaliwungu dan Pasar Sidorejo Brangsong.

Pedagang tempe dan tahu tidak berangkat karena tidak ada stok barang dari perajin.

Aksi ini dipicu kenaikan harga kedelai sehingga produsen tempe dan tahu menghentikan produksinya sementara waktu, agar tidak merugi.

Masiah, konsumen tempe mengaku kebingungan untuk mendapatkan tempe. 

Dia sudah berkeliling di beberapa pasar tradisional untuk membeli tempe, namun tak kunjung menemukan.

"Mau enggak mau, akhirnya saya beli menu lain. Seperti daging, telur, ikan yang harganya lebih mahal," tuturnya.

Sementara itu, Ketua Primer Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (Primkopti) Harum Kabupaten Kendal, Rifai mengatakan, pihaknya sudah melakukan sidak ke semua pasar tradisional untuk memastikan komitmen bersama para pedagang tempe dan tahu.

Termasuk sidak ke perajin-perajin tempe dan tahu atas aksi protes kepada pemerintah ini.

Kata dia, ada 400 - 500 perajin tempe di Kendal yang kelimpungan dengan tingginya harga kedelai.

Ia berharap, pemerintah mendengar keluh kesah perajin tempe dan tahu melalu aksi ini.

Sehingga ada langkah strategis dari pemerintah supaya harga kedelai bisa stabil kembali.

"Aksi ini sebenarnya sebagai wadah perajin dan pedagang tempe tahu supaya tidak menggelar aksi di jalanan. Kami harap, pemerintah mendengar ini supaya membantu kesulitan para perajin tempe dan tahu," harapnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved