Berita Regional
Wartawan Gadungan Peras Pegawai Toko di Bantul Rp10 Juta
Di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, terjadi kasus pemerasan dengan modus wartawan gadungan.
Pegawai toko pun semakin ciut setelah mereka diancam dengan Undang-undang perlindungan konsumen.
Bahkan tersangka membawa makalah berisi tentang UU perlindungan konsumen khususnya terkait barang kadaluarsa.
Dan di toko jejaring pertama tersebut, akhirnya ada kesepakatan di mana pelaku meminta ganti rugi sebesar Rp 10 juta dan ini disanggupi oleh pemilik toko tersebut.
Usai berhasil mendapatkan ganti rugi di toko pertama, para pelaku mendatangi toko kedua dan melancarkan modus serupa.
Namun di toko kedua mereka gagal memeras pegawai tokonya.
Pegawai berdalih bahwa onigiri yang dibeli pelaku berasal dari suplier dan mereka pun tidak dapat mempertanggungjawabkannya.
"Sehingga tersangka menitipkan nomor telepon, apabila suplier datang agar untuk menghubunginya," ucapnya.
Benar saja, setelah itu terjadi pertemuan antara suplier dan tersangka di sebuah hotel di wilayah Sewon.
Di sana tersangka kembali melancarkan modusnya dan memeras korban.
"Awalnya minta sejuta kemudian meminta Rp 10 juta, namun tidak terjadi kesepakatan karena anggota kami sudah duluan melakukan penangkapan terhadap pelaku," ujarnya.
Kapolres menyatakan, setelah mendapat informasi di TKP pertama, dirinya langsung memerintahkan anggotanya untuk melakukan penyelidikan.
Petugas kepolisian berhasil mengendus keberadaan tersangka di hotel tersebut dan mengamankan ketiga tersangka.
"Saat itu sedang berlangsung transaksi kedua, tapi bisa kita gagalkan sehingga tidak terjadi pemerasan untuk TKP yang kedua ini," ujarnya.
Saat penangkapan tersebut, polisi juga turut mengamankan beberapa barang bukti berupa sisa uang hasil penipuan senilai Rp 8 juta, beberapa kartu pers, rompi bertuliskan pers dan kartu pengenal bertuliskan LBH (Lembaga Bantuan Hukum), dan tanda pengenal lembaga anti narkotika.
"Ada juga kartu LBH juga. Lengkap nih sudah wartawan, LBH lagi. Gimana nggak ketakutan, sementara pegawai toko rata-rata kurang memahami terkait permasalah seperti ini," tukasnya.