Pura Somagede Banyumas Sementara Hilangkan Tradisi Pawai Ogoh-ogoh Sampai Corona Berakhir

Sudah kali ke-3 di Pura Giri Pedaleman Giri Kendeng Somagede Banyumas tidak menggelar pawai ogoh-ogoh.

Penulis: Imah Masitoh | Editor: Daniel Ari Purnomo
Tribun Jateng/ Imah Masitoh
Ritual pembakaran Caru di Pelataran Jaba Tengah atau Madya Mandala, Pura Pedaleman Giri Kendeng Somagede Banyumas, Rabu (2/3/2022). 

TRIBUNJATENG.COM , BANYUMAS – Perayaan Hari Nyepi Umat Hindu identik dengan adanya pawai ogoh-ogoh.

Sudah kali ke-3 di Pura Giri Pedaleman Giri Kendeng Somagede Banyumas tidak mengadakan pawai ogoh-ogoh. 

Hal ini dikarenakan untuk menghindari kerumunan di masa sekarang.

Biasanya menjelang Hari Raya Nyepi pawai ogoh-ogoh selalu diadakan dan dibuka untuk umum bisa melihatnya.

“Biasanya ada ogoh-ogoh, sudah 3 tahun ini kita belum bisa mengadakan lagi,” ucap Slamet Raharjo selaku Pemangku di Pura Pedaleman Giri Kendeng.

Ogoh-ogoh sendiri merupakan patung yang menggambarkan Bhuta Kala dalam ajaran Hindu.

Bhuta kala itu sendiri digambarkan sebagai sosok berukuran besar dan menyeramkan yang memiliki sifat negatif. 

Ogoh-ogoh mengandung filosofi gambaran sifat angkaramurka pada diri manusia. 

Slamet Raharjo juga menjelaskan bahwasannya Bhuta Kala ialah makhluk yang keberadaan tingkatannya di bawah manusia. 

Misalnya yang terlihat dicontohkan semut yang berada di bawah dan hal-hal yang sifatnya tidak terlihat seperti makhluk halus.

“Sifat angkara murka manusia disimbolkan dengan ogoh-ogoh atau raksasa yang diarak agar energi-energi negatif di alam semesta ditarik ogoh-ogoh dan dibakar guna melebur sifat-sifat angkaramurka tadi,” jelasnya. 

Tahun-tahun sebelum pandemi ogoh-ogoh di Desa Klinting selalu ada yang akan diarak mengelilingi desa.

Satu hari sebelum Hari Raya Nyepi akan ada pawai ogoh-ogoh yang dapat di saksikan oleh masyarakat umum.

“Kalau tahun ini rasanya lebih sepi. Biasanya ada arak-arakan ogoh-ogoh,” ungkap Tuti warga Desa Klinting.

Dalam peleburan sifat angkaramurka yang biasanya disimbolkan dengan ogoh-ogoh saat ini hanya ada pembakaran Caru sebagai simbol pengleburan sifat-sifat negatif.

Selain itu turut adanya persembahan kepada Bhuta Kala yakni sesajian yang diletakkan di Sanggar Cucuk yang terbuat dari bambu.

Persembahan tadi dimaksudkan agar Bhuta Kala tidak mengganggu saat umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian.

“Caru itu gunanya pengorbanan untuk Bhuta Kala atau setan agar tidak mengganggu terutama umat yang besok pagi melaksanakan Nyepi selama satu hari satu malam,” jelas Jaka selaku Seksi Pendidikan di Pura Pedaleman Giri Kendeng. 

Hari Raya Nyepi sendiri jatuh pada esok hari, Kamis (3/3/2022) umat Hindu akan melaksanakan Catur Brata Penyepian. (ima)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved