Harga Kendaraan Listrik bakal Makin Terjangkau, Kemenkeu Beri Insentif Bebas Bea Masuk Impor

insentif itu akan meringankan biaya produksi, sehingga harga kendaraannya semakin terjangkau bagi masyarakat.

Editor: Vito
kompas.com
sejumlah kendaraan listrik didisplai dalam sebuah pameran di Jakarta, baru-baru ini. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Pemerintah menetapkan tarif khusus Bea Masuk nol persen untuk kendaraan bermotor yang diimpor dalam kondisi tidak utuh dan tidak lengkap, atau Incompletely Knocked Down (IKD) melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK-13/PMK.010/2022.

Beleid itu mengatur tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 6/PMK.010/2017 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor.

Aturan itu ditetapkan pada 22 Februari 2022, sebagai dukungan terhadap pengembangan industri Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB).

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Febrio Kacaribu mengatakan, insentif itu akan membuat industri KBLBB semakin berkembang.

Hal itu karena akan meringankan biaya produksi dan mendorong industri untuk menghasilkan KBLBB dengan memanfaatkan barang-barang yang sudah diproduksi di dalam negeri, sehingga harga kendaraannya semakin terjangkau bagi masyarakat.

"Berkembangnya industri KBLBB akan meningkatkan investasi, penghematan konsumsi energi khususnya bahan bakar minyak (BBM), kualitas lingkungan, dan mendorong penguasaan teknologi," katanya, dalam keterangan resmi, Selasa (1/3).

"Hal ini nantinya diharapkan mampu menjadikan Indonesia sebagai basis produksi dan export hub kendaraan bermotor listrik." tambahnya.

Pemberian insentif Bea Masuk nol persen itu ditujukan untuk impor bentuk IKD kendaraan bermotor listrik roda empat atau lebih, hanya dengan motor listrik berbasis baterai untuk penggerak traktor jalan untuk semi-trailer, kendaraan bermotor untuk pengangkutan 10 orang atau lebih termasuk pengemudi.

Selain itu  juga kendaraan bermotor untuk pengangkutan orang lainnya, kendaraan pengangkutan barang dan kerangka dilengkapi dengan motor listrik sebagai penggerak.

KBLBB berkaitan erat dengan paradigma baru pembangunan ekonomi hijau dan berkelanjutan, karena sektor ini berkaitan langsung dengan pencapaian target Pemerintah dalam Nationally Determined Contribution (NDC).

Pengembangan industri KBLBB juga berperan strategis dalam menstimulasi industri turunan yang termasuk dalam rantai nilai (value-chain) industri ini, seperti hilirisasi mineral lanjutan (termasuk nikel), industri suku cadang, dan industri baterai.

Saat ini, pemerintah telah memiliki peta jalan pengembangan industri otomotif pada jangka menengah yaitu 2020-2030. Fokusnya adalah pengembangan kendaraan listrik dan komponen utamanya seperti baterai, motor listrik, dan konverter.

Pemberian insentif Bea Masuk nol persen diharapkan dapat semakin mendorong pencapaian target tersebut. Pada 2035, Indonesia menargetkan 1 juta kendaraan listrik roda empat atau lebih, dan 3,22 juta kendaraan listrik roda dua.

"Ruang pertumbuhan pasar kendaraan bermotor listrik produksi dalam negeri masih sangat besar di Indonesia. Selain itu, permintaan dunia akan KBLBB juga terus mengalami peningkatan signifikan," ucap Febrio.

"Kebijakan pemerintah akan terus diarahkan untuk membantu memanfaatkan ruang ini dengan baik, seiring dengan pemulihan ekonomi yang diharapkan semakin kuat ke depan," sambungnya.

Dengan target yang telah ditentukan tersebut, pemerintah memperkirakan dapat menghemat penggunaan 12,5 juta barel BBM, dan mengurangi 4,6 juta ton CO2 untuk kendaraan roda empat atau lebih.

Sementara untuk kendaraan roda dua, diperkirakan akan ada penghematan penggunaan BBM sebesar 4 juta barel, dan penurunan emisi mencapai 1,4 juta ton CO2.

Peta jalan ini selaras dengan inisiatif global baik di tingkat dunia maupun kawasan regional ASEAN yang bertujuan untuk mendorong kendaraan bermotor listrik.

"Dengan berbagai insentif yang sudah berjalan, insentif Bea Masuk nol persen ini diharapkan semakin mempercepat terealisasinya penggunaan kendaraan ramah lingkungan yang lebih masif," jelas Febrio. (Tribunnews)

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved