Harga Emas Antam Terus Meroket, Dampak Perang Rusia-Ukraina

komoditas logam mulia sebagai safe haven, sehingga jika terjadi perang atau inflasi maka orang akan memburu emas untuk mengamankan assetnya.

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: Vito
Tribun Jateng/ Ruth Novita Lusiani
ilustrasi - Produk emas di booth Butik Emas Antam Semarang dalam sebuah pameran. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) terus melambung dalam beberapa hari terakhir, bersamaan dengan lonjakan harga komoditas dunia akibat dampak perang Rusia-Ukraina.

Di Kota Semarang, harga emas Antam pada Jumat (4/3), semakin mendekati level psikologis Rp 1 juta/gram, yakni berada di level Rp 994.000/gram. Harga tersebut naik Rp 3.000 dari hari sebelumnya di angka Rp 991.000/gram. 

Harga pada Kamis (3/3) itu juga sudah mengalami kenaikan Rp 10.000 dari Selasa (1/3) lalu, di level Rp 981.000/gram. Sementara, harga pada Selasa juga sudah mengalami kenaikan Rp 8.000 dari harga sebelumnya.

Lonjakan harga emas Antam terjadi seiring dengan terus meningkatnya harga emas dunia, di tengah tren kenaikan harga komoditas. khususnya energi. 

Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuabi mengatakan komoditas logam mulia sebagai safe haven, sehingga jika terjadi perang atau inflasi maka orang akan memburu emas untuk mengamankan assetnya.

"Sekarang itu lagi kejar-kejaran antara komoditas logam mulia dan energi. Logam mulia terlalu santai (kenaikan tak setinggi energi-Red), karena sebentar lagi tanggal 15 Maret Bank Sentral AS akan melakukan pertemuan untuk menaikkan suku bunga, sehingga harganya akan fluktuatif," ujarnya, saat dihubungi Kontan.co.id.

Mengutip Bloomberg, Jumat (4/3), harga komoditas energi tercatat tumbuh signifikan. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) di pasar Nymex kontrak pengiriman April naik 46,62 persen year to date (ytd) di level 109,99 dollar AS/barel.

Sementara, harga batubara kontrak pengiriman Mei di Ice Newcastle, Kamis (3/3), tumbuh 167,68 persen ytd ke level 345,45 dollar AS/metrik ton. Kompak, harga crude palm oil kontrak pengiriman Mei di Malaysia Derivatives Exchange naik 56,04 persen ytd ke level RM 6.808 per ton.

Sedangkan kenaikan harga komoditas logam mulia tidak setinggi kenaikan harga komoditas energi. Harga emas spot, Jumat (4/3) naik 6,45 persen ytd ke level 1.946 dollarAS/ons troi.

Sementara, Analis Global Kapital Investama, Alwi Assegaf menyatakan, komoditas logam mulia bukan tertinggal oleh komoditas energi, tetapi karena fokus pasar saat ini lebih ke arah energi.

"Rusia ini satu produsen gas terbesar di dunia, bahkan Rusia memasok sekitar 30 persen dari impor minyak dan gas di Eropa. Tidak heran jika harga minyak tinggi," terangnya, saat dihubungi Kontan.co.id.

Menurut Alwi, pasar sebelumnya masih dibayangi mengenai ketatnya pasokan, karena setelah covid beberapa produsen belum secara maksimal memproduksi minyak.

"Sebelumnya pasokan yang ada di pasar sudah ketat, ditambah lagi dengan adanya perang antara Ukraina dan Rusia, yang di mana krisis ini berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas dunia," ucapnya.

Alwi menyebut, tinggal tunggu momentum di mana komoditas logam mulia mengikuti tingginya harga komoditas energi.

Pasalnya, ada dua hal yang jadi perhatiannya, yakni pertama krisis ini dapat mengganggu geopolitik dan perekonomian, kedua ketika harga komoditas energi tinggi maka akan mempercepat inflasi.

Pertama, emas merupakan aset safe haven, di mana ketika ada krisis geopolitik ataupun ekonomi, komoditas itu akan diserbu investor untuk mencari tempat berlindung yang lebih aman.

Kedua, inflasi yang tinggi akibat kenaikan harga energi itu bisa semakin mempercepat laju inflasi yang saat ini memang sudah tidak terkendali. "Sebagaimana kita ketahui bahwa emas merupakan sarana terhadap pelindung nilai terhadap inflasi," tukasnya. (Tribun Jateng/Idayatul Rohmah/Kontan.co.id/Aris Nurjani)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved