Terorisme

5 Ciri Penceramah Radikal Menurut BNPT, Lihat Isi Ceramahnya Bukan Tampilannya

5 ciri penceramah radikal diungkap Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid.

Editor: rival al manaf
Tribunnews/JEPRIMA
Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol Ahmad Nur Wahid bersama Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan saat mengikuti sesi wawancara khusus dengan Tribun Network di Gedung Tribunnews, Jakarta Pusat, Kamis (1/4/2021). Pada pembahasan kali ini mengangkat isu terorisme yang ada saat ini. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - 5 ciri penceramah radikal diungkap Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid.

Masyarakat dinilai perlu tahu lima ciri-ciri tersebut untuk menjauhi paham radikal yang disebut sebagai jiwa aksi terorisme. 

5 ciri tersebut diungkap setelah pernyataan Presiden Jokowi soal penceramah radikal.

Menurutnya, pernyataan Jokowi pada Rapim TNI-Polri di Mabes TNI, Jakarta Pusat, Selasa (1/3/2022) lalu itu, harus ditanggapi serius oleh seluruh kementerian, lembaga pemerintah, dan masyarakat tentang bahaya radikalisme.

Baca juga: Antisipasi Ancaman Radikalisme, Kodam IV/Diponegoro Gelar Latihan Tempur Kota di Karanganyar

Baca juga: 5 Poin Penting Perpres Penanggulangan Ekstremisme, Influencer hingga Pelatihan Penceramah

Baca juga: Ancaman KSAD Jenderal TNI Dudung Berangus Kelompok Radikal: Prajurit Jangan Jadi Ayam Sayur

“Sejak awal kami (BNPT) sudah menegaskan bahwa persoalan radikalisme harus menjadi perhatian sejak dini."

"Karena sejatinya radikalisme adalah paham yang menjiwai aksi terorisme."

"Radikalisme merupakan sebuah proses tahapan menuju terorisme yang selalu memanipulasi dan mempolitisasi agama,” tutur Nurwakhid saat dihubungi, Sabtu (5/3/2022).

Nurwakhid mengurai lima indikator yang bisa dilihat dari isi materi yang disampaikan penceramah radikal.

Pertama, mengajarkan ajaran yang anti Pancasila dan pro idieologi khilafah transnasional.

Kedua, mengajarkan paham takfiri yang mengafirkan pihak lain yang berbeda paham maupun berbeda agama.

Ketiga, menanamkan sikap anti pemimpin atau pemerintahan yang sah, dengan sikap membenci dan membangun ketidakpercayaan (distrust) masyarakat terhadap pemerintahan maupun negara melalui propaganda fitnah, adu domba, hate speech, dan sebaran hoaks.

Keempat, memiliki sikap eksklusif terhadap lingkungan maupun perubahan serta intoleransi terhadap perbedaan maupun keragaman (pluralitas).

Kelima, biasanya memiliki pandangan anti budaya atau anti kearifan lokal keagamaan.

“Mengenali ciri-ciri penceramah jangan terjebak pada tampilan, tetapi isi ceramah dan cara pandang mereka dalam melihat persoalan keagamaan yang selalu dibenturkan dengan wawasan kebangsaan, kebudayaan, dan keragaman,” paparnya.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved