Rusia Mengganas, Harga Emas Antam Meroket Lagi

perang Rusia-Ukraina meningkatkan tingginya permintaan investor untuk melakukan safe haven asetnya pada kooditas itu.

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: Vito
Tribun Jateng / Ruth Novita Lusiani
Emas Antam 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) di Kota Semarang terus menanjak, dengan posisinya pada Senin (7/3), berada di level Rp 1,017 juta/gram.

Harga itu tercatat kembali mengalami kenaikan cukup tinggi sebesar Rp 8.000, dibandingkan dengan posisi akhir pekan lalu di level Rp 1,009 juta/gram.

Lonjakan harga emas Antam terjadi seiring dengan melambungnya harga emas dunia, akibat dampak perang Rusia ke Ukraina yang meningkatkan tingginya permintaan investor untuk melakukan safe haven asetnya pada kooditas itu.

Harga emas dunia sempat menembus di angka 2.000,80 dollar AS/ons troi pada perdagangan Senin (7/3), meski pada akhirnya terkoreksi ke level kisaran 1.960 dollar AS/ons troi.

Dilihat dari RTI Business, pada pukul 13.55, harga emas di pasar spot berada di level 1.982,90 dollar AS/ons troi, meningkat sebesar 0,64 persen.

Harga emas batangan pun terus menunjukkan tren kenaikan seiring dengan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar atas sanksi yang diberikan berbagai negara terhadap Rusia.

Ahli Strategi Teknis dan Pendiri SAV Markets Singapura, Shyam Devani mengatakan, gangguan pasokan biji-bijian, energi, dan logam telah menambah tekanan harga, meski Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) tengah bersiap untuk menaikkan suku bunga.

"Langkah ke tempat yang aman dalam menghadapi kenaikan harga energi dan pangan yang signifikan akan terus mendukung kenaikan harga emas untuk beberapa waktu," ujarnya, dikutip dari Bloomberg.

Devani bahkan memproyeksikan, ketidakmampuan mengatasi permasalahan inflasi di tengah konflik geopolitik Rusia-Ukraina dapat membuat harga emas dunia naik ke level 2.142 dollar AS/ons troi.

Senada, pengamat komoditas Ariston Tjendra memproyeksikan kekhawatiran pasar terhadap konflik Rusia dan Ukraina masih menjadi faktor mendorong harga logam mulia.

Menurutnya, fokus pasar masih belum lepas dari perang di Ukraina, sementara perang juga belum terlihat akan usai dalam waktu dekat.

"Kekhawatiran pasar terhadap kenaikan inflasi karena naiknya harga komoditas, termasuk komoditas energi akibat perang di Ukraina masih mendorong kenaikan harga emas tersebut," ujarnya, dikutip CNNIndonesia.com. (Tribun Jateng/Idayatul Rohmah/Kontan.co.id/Aris Nurjani)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved