Sejarah Mbah Kalibening Banyumas, Musafir Sakti Sebelum Wali Songo, Wariskan Sumur Pasucen

Makam Mbah Kalibening menjadi wisata religi yang sering dikunjungi oleh Peziarah baik dari wilayah Banyumas maupun luar kota.

Penulis: Imah Masitoh | Editor: Daniel Ari Purnomo
Tribun Jateng/ Imah Masitoh
Makam Mbah Kalibening di Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas tampak dari dalam pintu gerbang menuju keluar, Selasa (8/3/2022). 

Ada 3 sumur yang ada di area makam Mbah Kalibening pertama, Sumur Pasucen (Sumur Kalibening), kedua, sumur untuk pemandian kaum putri, dan sumur untuk pemandian kaum putra.

Namun hanya Sumur Pasucen yang ada airnya.

Peziarah yang datang sering mengambil air dari sumur ini yang dipercayai dapat sebagai perantara pengobatan. 

“Menurut keyakinan masing-masing airnya bisa buat pengobatan. Kesembuhannya ya tergangung Yang Maha Kuasa,” ujar Sunaryoko kepada Tribunjateng.com.

Air dari Sumur Kalibening dapat langsung diminum karena keluar dari batu bebatuan yang ada di dalam.

Banyaknya peziarah yang mengambil air di Sumur Kalibening, saat-saat tertentu mengalami pengurangan air namun akan terisi penuh kembali. 

“Peziarah paling mengambil air dengan ukuran galon ukuran 2 literan,” ungkapnya.

Pada awalnya Sumur Pasucen ini hanya digunakan untuk mensucikan benda-benda pusaka saja yang tersimpan di museum pendopo Kalibening. 

Total ada 572 pusaka yang tersimpan di museum ini dengan berbagai macam jenis seperti batu-batu, keris, tombak, dan kain-kain kuno. 

Pembersihan pusaka itu dilakukan satu tahun sekali yakni pada bulan Maulud.

“Setelah hari peringatan Nabi Muhammad besoknya dilakukan jamasan (pencucian pusaka),” terang Sunaryoko Juru Kuncen Makam Mbah Kalibening sekaligus Juru Pelihara Benda-Benda Pusaka di Museum Kalibening. (ima)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved