Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Magister Pendidikan IPS UMP Purwokerto Gelar Seminar Nasional

Seminar yang dibuka langsung oleh Rektor UMP Dr Jebul Suroso mengambil tema Social Studies Learning Challenges in the 21st Century.

Editor: abduh imanulhaq
UMP PURWOKERTO
Seminar Nasional dan Call for Paper di Aula AK Anshori UMP purwokerto, Selasa (8/3/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Magister Pendidikan IPS Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Banyumas, Jawa Tengah, bekerjasama dengan Magister Pendidikan IPS UPY menggelar Seminar Nasional dan Call for Paper di Aula AK Anshori UMP, Selasa (8/3/2022).

Seminar yang dibuka langsung oleh Rektor UMP Dr Jebul Suroso mengambil tema Social Studies Learning Challenges in the 21st Century, dengan subtema Media Pembelajaran ini menghadirkan narasumber Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbudristek Dr Praptono.

Seminar Nasional dan Call for Paper di Aula AK Anshori UMP, Selasa (8/3/2022).
Seminar Nasional dan Call for Paper di Aula AK Anshori UMP, Selasa (8/3/2022). (IST)

Rektor UMP Dr Jebul Suroso mengapresiasi kegiatan tersebut untuk silaturahmi akademik, dan meningkatkan publikasi bagi dosen dan mahasiswa pasca.

Luaran dari kegiatan Seminar dan Call for Paper ini adalah Prosiding Seri II yang sudah terindeks dibeberapa lembaga pengindeks.

Seminar diikuti oleh 58 peserta dan 110 presenter dari berbagai perguruan tinggi, yaitu UMP, UPY, UAD, UNNES, IPI Garut, dan praktisi Pendidikan dari berbagai wilayah.

Ketua Program Studi Magister Pendidikan IPS UMP Dr Sriyanto mengatakan, kegiatan bertujuan silaturahmi akademik tentang masalah-masalah yang dihadapi dalam pembelajaran IPS, langkah-langkah pemecahan, dan hasil pembelajaran.

“Acara dibagi dalam tiga sesi, yang masing-masing sesi dipandu oleh Dr Sriyanto, Dr. Yudha Febrianta, dan mahasiswa Magister Pendidikan IPS UMP,” jelasnya.

 Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan Kemendikbudristek Dr Praptono mengatakan laporan studi nasional maupun internasional, seperti PISA, menunjukkan banyak siswa yang tidak mampu memahami bacaan sederhana atau menerapkan konsep matematika dasar.

“Selama 10-15 tahun ini skor PISA tidak mengalami perubahan yang signifikan, dimana sekitar 70 persen siswa usia 15 tahun berada di bahwa kompetensi minimum membaca dan matematika,” kata Dr Praptono

Keadaan tersebut semakin diperparah semenjak masa pandemi Covid-19 dengan hilangnya pembelajaran (learning loss) dan meningkatnya kesenjangan pembelajaran.

Kemendikbud melakukan berbagai upaya perbaikan dengan menyediakan platform Merdeka Belajar, Kampus Merdeka, Guru Penggerak, Sekolah Penggerak.

“Diberikannya keleluasaan dengan diberlakukannya Kurikulum 2013 secara penuh. Kurikulum Darurat 2013 yang disederhanakan, dan Kurikulum Merdeka. Program tersebut utamanya adalah untuk meningkatkan literasi, numerasi dan karakter,” jelasnya.

Seminar juga menampilkan pembicara dari UMP, Dr.rar.net. Anang Widhi Nirmansyah, M. Sc. dosen muda yang baru menyelesaikan program doktoral di Universiteit of Cologne, Jerman; dan pembicara kedua Dr. Esti Setyawati, M. Pd., Dekan FKIP UPY.

Inovasi Pembelajaran, Bahan Ajar interaktif, Pengembangan Model Pemblajaran, dan Kurikulum PIPS.

Pembelajaran IPS saat ini menjadi perhatian penting apalagi semenjak masa pandemic Covid-19 dimana proses pembelajaran dilakukan secara daring.

Belajar IPS pada dasarnya belajar bermasyarakat, berinteraksi, yang memerlukan skills komunikasi, sehingga diperlukan upaya agar guru dapat mengembangkan pembelajaran yang menarik, dan bukan sekedar transfer of knowledge, tetapi juga pengembangan karakter.(*) 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved