Berita Kriminal

Customer Service Bank Gelapkan Uang Rp 6,1 Miliar, Terungkap Bermula dari Kecurigaan Asisten Manajer

Seorang customer service bank milik negara ditangkap Kejaksaan Tinggi Kalbar setelah diduga korupsi dana pendapatan bunga dan pinalti senilai Rp 6,1.

Editor: rival al manaf
Tribun Jateng/Budi Susanto
ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM, KALIMANTAN - Seorang customer service bank milik negara ditangkap Kejaksaan Tinggi Kalbar setelah diduga korupsi dana pendapatan bunga dan pinalti senilai Rp 6,1 miliar.

Pria berinisial AF asal Kabupaten Ketapang itu kini ditahan.

Kepala Kejaksaan Tinggi Kalbar Masyhudi mengatakan, kasus ini terbongkar berawal adanya laporan dari asisten manajer pemasaran mikro (AMPM) yang melaporkan bahwa bank tersebut mengalami kerugian pada 31 Januari 2022 lalu.

Baca juga: Kronologi Pria Indramayu Menyerang Kiai di Ponpes yang Sedang Wirid, Sebelumnya Serang Istri Korban

Baca juga: Klasemen Liga 1, Persib Bandung Buat Bali United Tak Nyaman di Puncak Setelah Kalahkan Arema FC

Baca juga: Sedang Berlangsung, Berikut Link Live Streaming Real Madrid vs PSG di Liga Champions

Padahal, kata Masyhudi, dalam asumsi, harusnya bank tersebut dalam keadaan laba.

Kemudian, sambungnya, ditambah lagi temuan anomali saldo abnormal di rekening pendapat bunga kredit NP Kupedes-Ph3 AC dan pendapatan denda.

Berdasarkan laporan itu, pihaknya kemudian melakukan penyelidikan dan penyidikan hingga akhirnya menangkap AF.

"Pengungkapan ini merupakan hasil kolaborasi kejaksaan dengan pihak bank," kata Masyhudi, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (8/3/2022).

Kata Masyhudi, setelah mengantongi alat bukti yang cukup, penyidik kemudian melakukan penahanan terhadap AF selama 20 hari, dimulai 8 Maret 2022 sampai 27 Maret 2022.

"Kejati Kalbar menahan customer service BUMN di Ketapang, berinisial AF," ungkapnya.

Masyhudi mengatakan, akibat perbuatan tersangka AF, mengakibatkan kerugian keuangan negara sekitar Rp. 6,1 miliar.

"Dalam kasus korupsi dana pendapatan bunga dan pinalti menyebabkan kerugian negara sekitar Rp 6,1 miliar,” ujarnya.  

Dikutip dari TribunPontianak.co.id, terkait aliran dana 6,1 miliar itu, kata Masyhudi, pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Baca juga: Video 16 Rumah di Breyon Getasan Rusak Karena Puting Beliung, Pusaran Angin Terjadi Selama 20 Detik

Baca juga: 63.000 Penonton Bakal Banjiri Mandalika, Saksikan MotoGP Indonesia, 18-20 Maret 2022

Baca juga: Aji Santoso Buka Suara, Fokus Persebaya Surabaya Menangi Lagi, Tak Lagi Angkat Tropi Juara Liga 1

Selain itu, ia juga menyebut kemungkinan ada tersangka lainnya dari kasus ini, karena hingga kini pihaknya masih melakukan pengembangan.

"Penyidikan ini masih akan terus berlangsung untuk mengungkapkan, apakah ada orang lain yang bekerja sama dengan tersangka dimaksud, dan Kejaksaan akan terus tegas dalam penegakan hukum terutama korupsi agar perekonomian Indonesia menjadi lebih baik, terutama lembaga pengelola keuangan diisi oleh orang-orang, SDM maupun para bankir yang berintegritas, pantas dan layak untuk ditempatkan di sana," ujarnya, dikutip dari TribunPontianak.co.id.

Atas perbuatannya, tersangka AF dijerat Pasal 2 Ayat (1), Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dengan ancaman hukuman maksimal 20 tabun dan denda Rp 1 miliar. (*)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved