Pertumbuhan Ekonomi RI 2022 bakal Tetap Kuat

pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa mencapai kisaran 4,7-5,5 persen yoy, atau tetap berada di perkiraan bank sentral sebelumnya.

Editor: Vito
kontan.coi.id
Perry Warjiyo 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 bisa lebih tinggi dari tahun lalu yang tercatat sebesar 3,69 persen year on year (yoy).

Gubernur BI, Perry Warjiyo menyebut, pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa mencapai kisaran 4,7-5,5 persen yoy, atau tetap berada di perkiraan bank sentral sebelumnya.

“Pertumbuhan ekonomi domestik masih kuat seiring dengan meredanya penyebaran covid-19 varian Omicron, meski ada peningkatan risiko geopolitik Rusia-Ukraina,” ujarnya, via video conference, Kamis (17/3).

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi yang mumpuni itu antara lain ditopang perbaikan konsumsi rumah tangga dan investasi nonbangunan, serta tetap positifnya pertumbuhan konsumsi pemerintah.

Perry menuturkan, sejumlah indikator ekonomi dalam negeri pada awal Maret 2022 juga tercatat tetap baik, seperti penjualan eceran, keyakinan konsumen, penjualan semen, serta mobilitas masyarakat di berbagai daerah.

Meski demikian, dari sisi ekspor, ia melihat potensi penurunan dibandingkan dengan kondisi pada akhir tahun lalu, seiring dengan dampak konflik geopolitik yang menyebabkan tertahannya aktivitas perdagangan global.

Namun, secara spasial, Perry optimistis kinerja ekspor tetap kuat, terutama terjadi di wilayah Jawa, Sulawesi, Maluku, Papua, serta Bali dan Nusa Tenggara.

"Ke depan, kinerja ekonomi diprakirakan tetap baik, ditopang oleh akselerasi vaksinasi, kebijakan persyaratan perjalanan yang lebih longgar, pembukaan ekonomi yang semakin meluas, serta berlanjutnya stimulus kebijakan BI, pemerintah, dan otoritas terkait lain," ucapnya.

Dalam rangka mendukung pemulihan ekonomi, BI memutuskan kembali menahan suku bunga acuan, alias BI 7 days reverse repo rate dalam Rapat Dewan Gubernur BI Maret 2022, di level 3,5 persen.

Perry Warjiyo menyatakan, hal itu sejalan dengan perlunya bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan terkendalinya inflasi.

“Selain itu, ini juga merupakan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal yang meningkat sebagai dampak ketegangan geopolitik dari negara Rusia dan Ukraina,” jelasnya.

Selain menahan suku bunga acuan, bank sentral juga menahan suku bunga deposit facility di level 2,75 persen, dan suku bunga lending facility di level 4,25 persen.

Perry menyebut, BI juga akan mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan pemulihan ekonomi domestik lebih lanjut yang dilakukan dengan berbagai langkah. (Kontan.co.id/Bidara Pink)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved