Universitas Nasional Karangturi

Dampak Perang Rusia dan Ukraina bagi Indonesia

Perang ditandai dengan ledakan di sejumlah kota di Ukraina, termasuk ibu kota Kyiv, Odessa, Kharkiv dan Mariupol.

Editor: abduh imanulhaq
UNIVERSITAS NASIONAL KARANGTURI
Bonaventura Hendrawan Maranata SE MM, Dosen Program Studi Manajemen Unkartur Semarang 

Oleh : Bonaventura Hendrawan Maranata SE MM, Dosen Program Studi Manajemen Unkartur Semarang

RUSIA benar-benar menyerang Ukraina. Perang kemudian ditandai dengan ledakan di sejumlah kota di Ukraina, termasuk ibu kota Kyiv, Odessa, Kharkiv dan Mariupol. Meski pembicaraan damai tengah dilakukan kedua negara, gencatan senjata belum terjadi. Isu serangan Rusia ke Ukraina, sudah bergulir sejak November 2021. Sebuah citra satelit menunjukkan penumpukan baru pasukan Rusia di perbatasan dengan Ukraina. Rusia menyangkal hal tersebut. Namun santer beredar, Negeri Putin akan menyerang 16 Februari 2022. Apalagi latihan militer besar-besaran juga dilakukan, termasuk di laut dan negara tetangganya Belarusia.

Meski ramalan pertama tak terjadi, intelijen Estonia -negara NATO di Eropa Timur- tetap memberi peringatan. Serangan mungkin akan dilakukan secara terbatas, menggunakan kelompok milisi di Donbass, Ukraina Timur, yang memberontak ke pemerintah dan selama ini disokong Rusia. Puncaknya adalah 21 Februari 2022. Putin memberi pengumuman mengakui kemerdekaan milisi Donbas, Republik Rakyat Donetsk (DPR) dan Republik Rakyat Luhansk (LPR). Ketegangan akibat konflik Rusia dan Ukraina diperkirakan memberikan dampak rambatan ke ekonomi makro Indonesia. Menurut analisis ekonom Bank Mandiri, dampak kepada Indonesia ini melewati beberapa jalur dampak, seperti sektor finansial, sektor komoditas, serta jalur perdagangan. Ekonomi Bank Mandiri menyebut, konfik Rusia-Ukraina dampaknya bisa positif, tetapi bisa juga negatif. Dari jalur sektor finansial, perang Rusia-Ukraina menyebabkan obligasi Amerika Serikat (AS) atau US Treasury turun karena naiknya investasi ke aset safe haven.

Perang dapat berisiko pada kenaikan harga komoditas dari Rusia-Ukraina. Russia adalah salah satu produsen dunia minyak bumi, kalium karbonat (potash) bahan baku pupuk, dan industri pertambangan seperti nikel, alumunium dan palladium. Rusia dan Ukraina juga merupakan negara pengekspor utama gandum. Ia menambahkan, perang Rusia-Ukraina dapat berdampak pada kenaikan harga minyak bumi yang diperkirakan meningkat mencapai lebih dari $100/barrel. Sementara itu, harga bahan bakar minyak meningkat di AS dan Eropa sebesar 30 persen. antai pasokan global sebelumnya sudah mengalami hambatan logistik akibat COVID-19. Konflik Rusia-Ukraina yang berkepanjangan, sambungnya, berisiko memperburuk supply chain dan memicu kenaikan harga komoditas.

Perang dapat berisiko pada suplai komoditas dan logistik menjadi terhambat, lalu infrastruktur utama seperti pelabuhan di area Laut Hitam rusak akibat perang, maka negara maju dapat memberikan sanksi banned atas komoditas Rusia. Tetapi,sanksi ini juga dapat memperburuk harga komoditas karena pasokan komoditas alam dari Rusia untuk global ikut turun.

Dampaknya, per 25 Februari 2022, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS cukup terbatas, atau hanya sekitar 0,24 persen ke Rp 14.373 sepanjang dua hari. Imbal hasil obligasi pemerintah masih relatif stabil di 6,46 persen. Kemudian dari jalur sektor komoditas, konflik Rusia-Ukraina menyebabkan naiknya harga minyak dan gas (migas), Crude Palm Oil (CPO), serta batubara karena ada risiko suplai. Harga komoditas emas pun diperkirakan meningkat karena faktor inflation-hedging commodities, atau karena peralihan emas menjadi instrumen investasi safe haven ini. Dampaknya ke Indonesia, bisa menyebabkan kenaikan inflasi di bulan Februari atau Maret 2022.

Peningkatan ini melalui komoditas harga emas perhiasan yang biasanya masuk ke dalam komponen inti. Dari jalur perdagangan, Rusia dan Ukraina memang bukan negara mitra dagang utama Indonesia, tetapi Ukraina merupakan eksportir gandum utama dunia, termasuk ke Indonesia. Tekanan dari sisi suplai ini bisa meningkatkan tekanan pada inflasi domestik, terutama dari sektor pangan. Dengan demikian, perlu adanya diversifikasi untuk komoditas ini.

Perang juga membuat kerugian dan krisis perdagangan maupun ekonomi, ada beberapa negara yang justru diuntungkan. Negara penghasil emas, perak, alumunium, dan nikel seperti Indonesia mengalami kenaikan harga komoditas saat konflik Rusia-Ukraina berlangsung, negara lain penghasil minyak, gas bumi, perak, emas, nikel dan alumunium, hingga palladium juga mengalami kenaikan ini. "Untung dan rugi secara ekonomi maupun perdagangan dalam konflik Russia-Ukraina ini bukan hanya bergantung pada sisi mana kita berpihak secara politik, (ke Rusia atau Ukraina), tapi juga bergantung pada interdependensi perdagangan kita, apakah dengan jejaring dagang aliansi besar Russia ataukah aliansi Ukraina-US-EU dan juga secara khusus pada komoditas ekspor dan impor kita. (*)

Informasi lebih lanjut : Jl. Raden Patah No. 182-192, Semarang. Telp. 024-3545882/08112710322 atau IG @universitasnasionalkarangturi.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved