Program PINTAR
Mandalika dan Siklus Hujan
Ajang balap MotoGP di Mandalika telah berlalu. Namun, euforia tetap terasa hingga sekarang.
Oleh: Mega Permatasari, S.Pd.SD, M.Pd.,Fasilitator Daerah Program PINTAR Tanoto Foundation & Guru SD Negeri Slarang 04, Cilacap
Ajang balap MotoGP di Mandalika telah berlalu. Namun, euforia tetap terasa hingga sekarang. Terlebih lagi jika mengingat momen tertundanya pertandingan karena cuaca ekstrem yang tiba-tiba melanda. Cuaca yang semula panas terik, tiba-tiba berganti dengan hujan lebat disertai petir yang menyambar-nyambar. Tersebutlah Rara, si pawang hujan Mandalika yang menjadi bintang arena karena ritualnya berkeliling sirkuit sembari bernyanyi dan memainkan singing bowl-nya. Tak berselang lama awan-awan gelap terpecah dan hujan pun berhenti. Ajang balap pun dilanjutkan kembali.
Rara dan hujan menjadi satu momen ajang MotoGP Mandalika yang paling memberi kejutan bagi semua orang. Berhentinya hujan menjadi kesempatan Indonesia untuk melanjutkan pelayanan menjadi tuan rumah yang ramah bagi ajang balap tingkat dunia itu. Soal perdebatan kearifan lokal versus rasionalitas modern di medsos menjadi bumbu penyedap momen semakin berasa.
Momen MotoGP Mandalika rupanya juga banyak dimanfaatkan oleh berbagai pihak. Tidak hanya wirausahawan yang memanfaatkannya untuk mengais rezeki dengan berjualan, tetapi guru di SD Negeri Slarang 04, Cilacap juga memanfaatkannya untuk pembelajaran materi “Siklus Air” dengan fenomena hujan lebat di Mandalika. Respons tak terduga diberikan oleh para peserta didik. Tidak sedikit yang penasaran tentang proses hujan lebat saat itu karena seperti yang mereka tahu, sebelumnya cuaca sangatlah panas.
“Siklus Air (Hujan)” memang materi yang dekat dengan peserta didik, bahkan mereka mengalaminya langsung. Akan tetapi, materi menjadi kurang menarik bila kegiatan pembelajaran hanya dijelaskan teorinya saja dan tanpa menggunakan media yang unik. Maka, di awal guru memilih untuk mengaitkan materi pelajaran dengan fenomena hujan lebat di Mandalika. Kemudian, guru menggiring peserta didik untuk mengamati fenomena air di bumi. Guru melemparkan beberapa pertanyaan, seperti “Mengapa air di bumi tidak pernah habis ya meski dipakai terus-menerus? Kalau hujan mau turun, apa bisa diprediksi ya? Kira-kira, apa saja ya yang memengaruhi turunnya hujan?”
Beragam jawaban didapatkan. Kecuali nomor tiga, semua pertanyaan terjawab dengan sempurna. Meski jawaban hasil dari sekadar menerka-nerka, tak satu pun peserta didik yang menjawab. Rupanya, proses siklus air benar-benar nihil bagi setiap peserta didik. Di tahap inilah, guru kemudian mengimbau peserta didik untuk membaca teks mengenai siklus air. Dari hasil membaca, peserta didik menyebutkan proses yang terjadi. Karena hanya berbekal informasi dari bacaan, peserta didik belum sepenuhnya memahami proses dalam siklus air. Untuk itulah, guru membuat strategi belajar dengan membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok.
Secara berkelompok, peserta didik memanfaatkan barang-barang sederhana menjadi Diorama Siklus Air. Dimulai dengan mengumpulkan alat dan bahan yang telah diinformasikan sebelumnya, peserta didik kemudian menyusun bagian penting, seperti matahari, perairan/laut, daratan, tumbuhan, langit, awan lengkap dengan keterangan proses (evaporasi, transpirasi, kondensasi, presipitasi, dan infiltrasi).
Setelah semua siap, masing-masing kelompok saling unjuk gigi memamerkan hasil kerja di depan kelas. Belum semua diorama yang dikerjakan telah tepat. Jadi, peserta didik diperkenankan untuk memperbaiki di rumah bersama orang tua. Dukungan penuh dari orang tua tampak dari perbaikan diorama dan ekspresi peserta didik yang lebih percaya diri.
“Ternyata dengan membuat model siklus air, saya bisa lebih paham, Bu,” ungkap Ade saat menyampaikan hasil refleksinya di akhir pembelajaran.
“Iya Bu, saya juga senang sekali bisa membuat siklus hujan ini. Seperti aslinya ya,” tutur Putri tak mau ketinggalan mengungkapkan rasa senangnya.
Tidak hanya memudahkan peserta didik dalam memahami materi, strategi belajar yang tepat juga membuat mereka senang dan antusias. Tidak ada istilah gagal dalam belajar. Hasil diorama yang belum tepat, menjadi acuan mereka untuk lebih giat dalam memahami materi. Pelibatan peserta didik secara aktif dan mengaitkan materi dengan peristiwa nyata, memang menjadi kunci keberhasilan. Alih-alih hanya membuat peserta didik bisa memahami satu materi pelajaran, skenario pembelajaran yang telah dirancang ternyata justru memancing semangat, kekompakan bekerja sama, dan rasa pantang menyerah peserta didik selama belajar. Suatu upaya guru yang patut diapresiasi, bukan?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/mega-permatasari-spdsd-mpdfasilitator-daerah-program-pintar-tanoto-foundation.jpg)