Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Kompas Terus Bergerak Benahi Anggur Warga Semarang

Komunitas Pecinta Anggur Semarang (Kompas) terus mencari 'mangsa' untuk mempopulerkan anggur berkualitas baik di tengah masyarakat

Penulis: arief novianto | Editor: abduh imanulhaq

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Komunitas Pecinta Anggur Semarang (Kompas) terus mencari 'mangsa' untuk mempopulerkan anggur berkualitas baik di tengah masyarakat, dalam menyukseskan visinya meng-anggur-kan Kota Semarang.

Selain sosialisasi dan pelatihan, Kompas membenahi tanaman anggur milik warga, yakni mengubah dari varian lokal menjadi varian impor dengan kualitas buah yang jauh lebih baik, atau sering dikenal dengan table grape (anggur meja).

Hal itu sekaligus diyakini bakal menarik minat warga sekitarnya untuk ikut menamam.

"Kalau nanti tetangga-tetangganya melihat dan mencicipipi buah anggur yang rasanya enak, mereka juga akan tertarik untuk menanam, sehingga penanam anggur akan menjadi semakin banyak. Makanya kami ganti varian anggur warga yang tadinya lokal menjadi varian impor," kata Yohanes Susanto, Bendahara sekaligus penggerak Kompas, di sela kegiatan perbaikan varian anggur warga di Jalan Ki Mangunsarkoro Semarang, Sabtu (26/3).

Menurut dia, dalam kegiatan itu Kompas mengganti varian Isabella dan Yellow Belgi yang sudah berusia beberapa tahun itu dengan sejumlah varian, yakni Transfiguration, Ninel, Everest, dan Thomson.

Beberapa varian itu dikenal mudah berbuah, serta memiliki buah yang besar dan enak.

"Yellow Belgi dan Isabella itu buahnya kecil dan rasanya dominan masam," katanya.

Yohanes menuturkan, penggantian varian itu dilakukan dengan teknik grafting/sambung pada batang anggur lokal sebelumnya yang telah dipangkas dengan menyisakan sekitar 1,5 meter dari tanah.

Teknik itu paling banyak digunakan untuk mempercepat budidaya anggur.

"Dengan teknik seperti ini pohon anggur bisa cepat tumbuh besar, karena disambung pada batang yang sudah tua, dengan akarnya yang sudah sangat kuat. Paling 2 minggu tunasnya sudah tumbuh, baru kemudian tinggal perawatan," jelasnya.

Penasihat sekaligus mentor di Kompas, Nasoka menyatakan, sebelum dilakukan penyambungan, batang anggur lokal terlebih dahulu dibersihkan dengan disikat dan dibasuh menggunakan pupuk organik cair (POC) Akademi yang dikembangkan Kompas.

Hal itu dilakukan untuk memperbaiki kondisi batang, sekaligus menghilangkan jamur dan kutu yang menempel.

Setelah bersih, Mbah Soka, sapaannya, berujar, batang lokal itu kemudian disambung dengan entres (potongan batang bermata tunas) varian impor yang telah disiapkan.

Kemudian, Kompas juga melakukan perbaikan media tanam dengan penambahan pupuk yang sudah diracik sedemikian rupa.

"Nanti setelah ini, kami akan terus memantau perkembangannya, sekaligus melakukan pendampingan, memberi tahu hal-hal yang harus dilakukan sampai pohon anggur ini berbuah. Ini semua gratis untuk warga Semarang. Saya mengajak warga Semarang menanam anggur, menghijaukan bumi," paparnya. (*)

Sejumlah anggota Kompas melakukan perbaikan pohon anggur lokal milik warga menjadi varian impor, di Jalan Ki Mangunsarkoro Semarang, Sabtu (26/3).

TRIBUN JATENG/ARIEF NOVIANTO

TONTON JUGA DAN SUBSCRIBE :

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved