Sudah 36 Hari Perang, Rusia-Ukraina Masih Memanas, Korban Jiwa Capai Ribuan

Pada perundingan damai, Moskow berjanji mengurangi aktivitas militer, dan pada Kamis (31/3), mengumumkan gencatan senjata di Mariupol.

Editor: Vito
AP PHOTO/FELIPE DANA -VIA KOMPAS.COM
Petugas pemadam kebakaran memadamkan api di dekat pusat perbelanjaan setelah serangan Rusia, di Kyiv, Ukraina, Senin (21/3). 

TRIBUNJATENG.COM, CHERNIGIV - Perang Rusia dan Ukraina telah memasuki hari ke-36 pada Kamis (31/3). Pasukan Rusia terus memborbardir kota-kota di Ukraina, hingga menyebabkan jatuhnya ribuan korban jiwa.

Padahal, perundingan damai sudah bergulir, di mana Moskow berjanji mengurangi aktivitas militer, dan pada Kamis (31/3), mengumumkan gencatan senjata di Mariupol.

Pihak berwenang Ukraina mengatakan pada Rabu (30/3), bahwa pasukan Rusia telah membombardir Kota Chernigiv yang mengancam nyawa warga sipil dan menghancurkan berbagai infrastruktur.

"Musuh telah menunjukkan 'penurunan aktivitas' di wilayah Chernigiv dengan serangan di Nizhyn, termasuk serangan udara. Chernigiv ditembaki sepanjang malam," tulis Gubernur Regional Chernigiv, Vyacheslav Chaus, di media sosial.

Berbicara di televisi lokal, Chaus kemudian menambahkan bahwa situasi di Chernigiv tidak berubah sehari setelah Rusia mengumumkan akan mengubah kebijakan. Pada Rabu, ia menyebut, sudah tidak ada air atau listrik di kota Chernigiv.

"Chernigiv berada di bawah artileri dan pemboman udara. Tadi malam (Selasa malam-Red), ada pemboman yang menghancurkan infrastruktur sipil. Komunikasi pun terputus, dan kami tidak dapat memperbaikinya sekarang," terangnya, dikutip dari AFP.

Adapun, ribuan warga sipil diperkirakan menjadi korban tewas di kota pelabuhan Mariupol, Ukraina, yang terkepung sejak pengeboman dimulai empat minggu lalu oleh pasukan Rusia.

Pada Selasa lalu, Kantor HAM PBB mengonfirmasi sebanyak 1.179 tewas dan 1.860 warga sipil terluka di seluruh Ukraina sejak awal invasi Rusia pada 24 Februari lalu.

Pernyataan itu disampaikan Kepala Misi Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di Ukraina, Matilda Bogner, dalam sebuah wawancara virtual.

Ia pun mengaku telah mengerahkan sekitar 60 pemantau. "Kami berpikir bahwa mungkin ada ribuan kematian, korban sipil di Mariupol," katanya.

Dikutip dari laman Ukrinform, Rabu (30/3), Bogner menyampaikan bahwa misi tersebut tidak memiliki angka yang tepat, tetapi sedang bekerja untuk mengumpulkan lebih banyak informasi.

Sementara itu, menurut Juru bicara Wali Kota Mariupol, Vadym Boychenko, hampir 5.000 orang, termasuk sekitar 210 anak-anak di antaranya tewas di kota itu setelah pasukan Rusia mengepungnya sebulan lalu. Pihaknya juga mengaku telah menemukan kuburan massal.

"Di kuburan massal, sebenarnya kami telah memutuskan sekarang kami harus menyebutnya 'kuburan improvisasi'," jelas Bogner. Ini karena istilah 'kuburan massal' mungkin menyiratkan korban kejahatan, sedangkan orang yang tewas di Mariupol mencerminkan kematian, karena berbagai penyebab.

"Korban sipil dari konflik ini diyakini sebagai 'bagian yang cukup kecil" dari mayat di kuburan improvisasi di taman dan kebun. Beberapa orang yang meninggal secara alami tidak pernah dibawa ke kamar mayat atau makam individu karena konflik. Tidak jelas apakah ada korban militer yang dimakamkan di kuburan improvisasi itu," jelas Bogner. (Kompas.com/Tribunnews)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved