Fokus
Fokus: Godaan untuk Arjuna
KOCAP kacarita, Arjuna bersigegas menuju puncak Gunung Indrakila. Dia mendapat wisikan untuk menyepi, bertirakat di gunung tersebut. Dia harus berkhal
Penulis: achiar m permana | Editor: m nur huda
Tajuk Ditulis Oleh Jurnalis Tribun Jateng, Achiar M Permana
TRIBUNJATENG.COM - KOCAP kacarita, Arjuna bersigegas menuju puncak Gunung Indrakila. Dia mendapat wisikan untuk menyepi, bertirakat di gunung tersebut. Dia harus berkhalwat di gunung tersebut, menjauh dari keriuhan dunia, untuk mendapatkan anugerah dewata.
Belum sampai di tempat tujuan, sejumlah aral mengadang. Mulai dari babi hutan kelaparan, ular raksasa berkepala dua, hingga raksasa ganas sakti mandraguna.
Gangguan pertama, tiba-tiba, entah dari mana muncul babi hutan, yang langsung menyerang Arjuna. Serangan yang benar-benar membabi buta. Untunglah, sang penengah Pandawa memiliki kepiawaian olah kanuragan, berkat didikan Begawan Drona dari Padepokan Sokalima. Babi hutan pun bisa dikalahkan.
Lepas dari mulut babi hutan,kali ini datang ular raksasa berkepala dua. Seperti pada kejadian sebelumnya, ular itu pun langsung menyerang tanpa pariwara. Ular itu melilit tubuh Arjuna dan pada saat bersamaan, kedua kepalanya menyerang. Seperti sebelumnya, gangguan ini pun bisa diatasi.
Gangguan ketiga datang dari raksasa penghuni gua, yang ditemui Arjuna di tengah perjalanan. Raksasa itu benar-benar sakti, tahan segala pukulan, kebal dari segala senjata.
Sadar bahwa raksasa itu tidak bisa dilawan dengan kekuatan fisik, Arjuna kemudian duduk bersila, menangkupkan kedua tangan di depan dada, dan pasrah sumarah kepada Tuhan. Yang menarik, semakin dalam Arjuna mengheningkan cipta, raksasa yang melawannya berubah semakin kecil. Semakin redam amarah Arjuna, semakin kecil pula raksasa tersebut. Hingga akhirnya, raksasa itu pun sirna.
Kemudian, sesampai di puncak Gunung Indrakila, Arjuna melaksanakan niatnya, bersemedi. Rupanya, godaan belum berhenti. Godaan terberat berupa tujuh bidadari jelita. Namun keteguhan Arjuna dalam tapa, membuat godaan itu tidak mempan. Singkat cerita, dewata pun menghadiahkan panah Pasopati. Dengan panah itu, Arjuna bisa mengalahkan raksasa Prabu Niwatakawaca yang sedang menyerbu Kahyangan Jonggringsalaka, dan kelak membawanya pada kejayaan dalam Perang Baratayuda.
“Nek sampean sing tapa, mesthi langsung njenggirat bareng ditekani denyom jekom,” Dawir, sedulur batin saya, nyeletuk dari balik tengkuk.
Kisah pertapaan Arjuna itu, mengingatkan saya pada ibadah Ramadan yang saat ini kita jalani. Sejak Minggu (3/4/2022) lalu, kita menjalani ibadah puasa Ramadan, sesuai hasil sidang itsbat penetapan 1 Ramadan, dua hari sebelumnya. Warga Muhammadiyah, yang berpedoman pada metode hisab, telah terlebih dahulu berpuasa sehari sebelumnya, Sabtu (2/4/2022).
Serupa Arjuna, pada bulan ini umat Islam tengah ‘mesu diri lan raga’, mengendalikan keinginan jiwa dan raga. Bukankah, kata orang-orang saleh, hakikat berpuasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga pada siang hari Ramadan, melainkan mengendalikan nafsu –keinginan jiwa dan raga—dari hal-hal yang bisa merusaknya?
Yang kita tidak pernah tahu, apakah pada akhirnya ‘tapabrata’ kita pada Ramadan ini berujung happy ending seperti Arjuna atau tidak. Kita tidak tahu, apakah puasa—yang berasal bahasa Sanskerta ‘upawasa’, ‘upa’ yang berarti ‘dekat atau mendekat’ dan ‘wasa’ yang berarti ‘Tuhan’—benar-benar berhasil mendekatkan kita pada Tuhan atau tidak. Kita tidak pernah bisa memastikan, apakah kita bakal mendapatkan ‘Pasopati’ seusai menuntaskan Ramadan, atau justru sebaliknya, kalah oleh godaan.
Sebab, sangat terbuka kemungkinan, godaan-godaan yang datang bertubi-tubi, justru ‘sukses’ merusak puasa kita. Jangan-jangan, kita gagal mengatasi godaan untuk menganggap puasa kita paling benar dan paling berkah dibanding liyan. Jangan-jangan, kita gagal mengatasi godaan untuk riya, memamerkan ibadah kita, dengan dalih apa saja. Jangan-jangan...
“Eh, mau bengi saur apa, Kang? Kok dongaren, cangkemem lenceng galeng?” Dawir nyeletuk lagi. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/achiar-m-permana_20170811_073817.jpg)