Fokus
Fokus: Raja Klaim
Padahal, sudah jelas-jelas Reog Ponorogo adalah kesenian asli Ponorogo, Jatim. Kalaupun ada di daerah lain, grup kesenian inipun tetap dinamakan Reog
Penulis: arief novianto | Editor: m nur huda
Tajuk Ditulis Oleh Wartawan Tribun Jateng, Arief Novianto
TRIBUNJATENG.COM - "Saiki gantian Reog Ponorogo sing diklaim Malaysia, sesuk-sesuk opo meneh iki (Sekarang gantian Reog Ponorogo yang diklaim Malaysia, besok-besok apa lagi ya-Red)?" ujar satu tetangga saya, dalam sebuah diskusi di warung kopi kampung, sore kemarin.
Yah, hal itu diungkapkan tetangga saya menanggapi kabar yang menyebutkan bahwa Malaysia mengklaim dan mendaftarkan kesenian Reog Ponorogo ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
Padahal, sudah jelas-jelas Reog Ponorogo adalah kesenian asli Ponorogo, Jatim. Kalaupun ada di daerah lain, grup kesenian inipun tetap dinamakan Reog Ponorogo. Sehingga, Reog Ponorogo dipastikan adalah kesenian milik Indonesia.
Konon, di Malaysia tepatnya di Johor dan Selangor juga dikenal Reog. Di sana, namanya Tari Barongan. Wujud kesenian budayanya mirip dengan Reog Ponorogo, bahkan sama.
Menurut sejarawan, kesenian Reog Ponorogo dibawa dari Jawa ke Johor oleh para perantau. Warga Jawa, terutama Ponorogo merantau ke Johor kira-kira pada 1722. Dan seperti di daerah lain, perantau asal Jawa tetap konsisten menjaga tradisi seni budayanya.
Sebenarnya, Reog Ponorogo masuk dalam nominasi tunggal untuk diusulkan sebagai warisan budaya tak benda atau Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO 2023.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan, penyebutan nominasi tunggal untuk Reog lantaran kesenian itu hanya ada di satu wilayah, yakni Kabupaten Ponorogo. Ia pun telah meminta Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, mengumpulkan dokumen saintifik tentang kesenian Reog Ponorogo.
Menanggapi klaim Malaysia, ratusan seniman Reog dari berbagai kota menggelar aksi "Orasi" di Goa Sentono, Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Minggu (10/4). Ratusan seniman itu berasal dari berbagai kota, mulai dari Blora, Purwodadi, Ngawi, Madiun, Bojonegoro, dan lain-lain.
Hanafi, seorang seniman Blora, mengungkapkan, aksi atau pertunjukan itu sebagai bentuk protes terhadap Malaysia yang akan mendaftarkan Reog ke UNESCO. "Padahal Reog ini asli dari Ponorogo Indonesia," ucapnya, kepada Tribun Jateng.
Hanafi berharap kepada pemerintah Indonesia segera mendaftarkan Reog sebagai kesenian asli Indonesia ke UNESCO. "Aksi ini perwakilan dari Blora untuk Indonesia. Pemerintah harus segera mendaftarkan Reog ke UNESCO. Reog ini kesenian asli Ponorogo, Indonesia, bukan dari Malaysia," tegasnya.
Tampaknya, bukan kali ini saja terdengar Malaysia mengklaim warisan seni budaya Indonesia sebagai miliknya, sebut saja wayang kulit, batik, tari pendet dan tari piring, hingga kesenian kuda lumping.
Dari tahun ke tahun, klaim budaya Indonesia sepertinya tidak pernah surut, dengan paling banyak kasusnya dilakukan Malaysia. Persoalan klaim-mengeklaim kebudayaan itupun kerap memanaskan hubungan Indonesia dengan Negari Jiran.
Sejauh ini, pemerintah Indonesia selalu dapat menyelesaikan hal itu lewat jalur diplomasi, didukung dengan bukti dan fakta yang kuat, meski rasa nasionalisme dan patriotisme masyarakat Indonesia yang sangat kokoh terlanjur memunculkan reaksi keras.
Untuk menghindari kejadian serupa terus berulang, rasanya pemerintah perlu melakukan antisipasi yang lebih spesifik, seperti mendata lebih masif warisan seni budaya Indonesia yang berpotensi diklaim negara lain. "Susah urusane ek ketemune raja klaim ngono kuwi (Urusannya susah kalau bertemu dengan raja klaim seperti itu-Red)," tukas tetangga saya yang lain. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/arief-novianto-jpg.jpg)