Berita Sragen
Video Memahami Kehidupan Manusia Purba dari Museum Sangiran
Jauh sebelum manusia modern ada, bumi ini sudah dihuni manusia purba (Homo Erectus) dengan lingkungannya, binatang dan tumbuhan purba.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: abduh imanulhaq
TRIBUNJATENG. COM, SRAGEN - Berikut video Memahami Kehidupan Manusia Purba dari Museum Sangiran.
Jauh sebelum manusia modern ada, bumi ini sudah dihuni manusia purba (Homo Erectus) dengan lingkungannya, binatang dan tumbuhan purba.
Ini lah yang tergambar jika anda berkunjung ke Museum Manusia Purba Sangiran, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.
Situs itu memiliki beberapa klaster, meliputi Klaster Krikilan, Klaster Dayu, Klaster Bukuran, Klaster Ngebung, dan Klaster Manyarejo dengan lokasi berbeda.
Bukti ilmiah keberadaan makhluk purba terekam di sini. Saat memasuki museum di Klaster Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Sragen, pengunjung seakan dibawa terbang ke zaman Pleistosen pada rentang 2 juta hingga 200.000 tahun lalu.
Di museum ini, lewat diorama di Ruang Pamer 1, tergambar jelas kehidupan makhluk purba saat itu. Fosil flora dan fauna purba yang masih asli dipajang di dalam kaca.
Ada tengkorak kepala buaya purba (Crocodylus) yang ditemukan di lapisan Pucangan. Spesies ini diperkirakan berukuran sekitar 7 meter dan mati pada 1,8 juta tahun lalu.
Badak Purba (Rhinoceros Sondaicus) yang diperkirakan hidup di padang terbuka Sangiran sekitar 700.000 tahun silam, dengan berat 3,6 ton.
Juga dipajang fosil babi purba yang diperkirakan hidup pada 700.000 tahun lalu, harimau purba (500.000 tahun lalu), hingga gajah purba.
Hanya kerangka yang ditemukan sudah tidak utuh, semisal fragmen gading gajah purba (Incisivus Stegodon).
Temuan itu menggambarkan lengkapnya mata rantai makanan di hutan purba dengan predator Harimau.
Diperkirakan, sekitar 500.000 tahun lalu, Sangiran adalah lingkungan hutan belantara di antara dua gunung api.
Inilah zaman keemasan Sangiran dimana manusia purba, gajah, badak, babi, macan, buaya, kura-kura dan tumbuhan purba hidup berdampingan.
“Yang dipajang, untuk fosil tumbuhan dan hewan (sebagian besar) asli. Untuk manusia purba replika,”kata Penanggungjawab Objek Wisata Museum Sangiran Ika Karolina
Ruang pamer ini juga memajang replika tengkorak manusia purba Homo Erectus yang diperkirakan berusia 1,25 juta tahun lalu.
Fosil dengan nama Sangiran 17 itu sekaligus menjadi masterpiece nya Sangiran karena menjadi rujukan penting dalam rekonstruksi figur Homo Erectus Jawa.
Masih ada Ruang Pamer 2. Di sini, pengunjung bisa mendapatkan informasi awal terbentuknya alam semesta dalam bentuk film pendek.
Ruang ini juga didukung koleksi fosil dari Sangiran, artefak, dan diorama untuk menjelaskan informasi ke pengunjung.
Ruang Pamer 3 tak kalah menarik. Ruangan ini adalah diorama yang menggambarkan kehidupan Homo Erectus di masa keemasannya, sampai 500.000 tahun lalu.
Di sini ditampilkan rekonstruksi Homo Erectus dari temuan Sangiran 17, serta manusia Leang Bua dari Flores.
“Untuk tiket masuk pengunjung ke museum, tarifnya Rp 8000,”katanya
Museum Manusia Purba Sangiran bisa dijangkau mudah dari arah Solo (Surakarta) maupun Sragen. Dari kota Sragen, kawasan situs ini bisa ditempuh dengan perjalanan darat sejauh sekitar 30 kilometer atau sekitar 40 menit. Dari Solo, Sangiran bisa ditempuh menggunakan transportasi darat sejauh sekitar 20 kilometer.
Selain menikmati perjalanan wisata, wisatawan bisa membawa pulang buah tangan atau souvenir khas Sangiran. Di sepanjang jalan menuju museum, serta di dalam komplek museum, banyak lapak souvenir yang dijajakan warga sekitar.
Di antara souvenir khas itu adalah aksesoris berbahan batu serta fosil kayu asli Sangiran. Aksesoris itu dijual dengan kisaran harga puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Warga sekitar juga sebagian menyediakan tempat penginapan (homestay) dengan tarif sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu.
“Batu asli sini. Kalau pembuatannya ada yang dari luar, karena di sini gak ada alatnya,”kata rahmadi, pedagang souvenir di komplek museum. (aqy)