Tadarus
Puasa Menjadi Penawar Hawa Nafsu
Nafsu adalah kecenderungan tabiat kepada sesuatu yang dirasa cocok. Kecenderungan ini merupakan satu bentuk ciptaan yang ada dalam diri manusia
Khoirul Muslimin,Dosen Unisnu Jepara/Ketua Lakpesdam PCNU Kabupaten Jepara
TRIBUNJATENG.COM - RAMADAN merupakan bulan suci yang mengajarkan umat muslim yang beriman untuk menahan nafsu syahwat, marah, makan, minum yang lain yang bisa membatalkan puasa.
Nafsu adalah kecenderungan tabiat kepada sesuatu yang dirasa cocok.
Kecenderungan ini merupakan satu bentuk ciptaan yang ada dalam diri manusia, sebagai urgensi kelangsungan hidupnya.
Nafsu mendorong manusia kepada sesuatu yang dikehendakinya baik itu kebaikan maupun keburukan.
Nafsu itu sangat penting bagi manusia.
Tanpa nafsu maka, makanan tidak lezat, tanpa nafsu istri kurang bergairah, tanpa nafsu semangat mengejar cita-cita akan kendar, dan tanpa nafsu mengerjakan ibadah akan malas.
Oleh karen itu nafsu sangat dibutuhkan manusia.
Ada nafsu yang menyuruh pada kejahatan dan nafsu menyuruh kepada kebaikan. Di dalam Alquran nafsu dibagi menjadi dua yaitu nafsu syaithon dan nafsu rahmat.
Nafsu syaithon adalah nafsu yang dibisiki oleh setan. Sedangkan nafsu rahmat adalah nafsu yang dirahmati oleh Allah swt.
Nafsu itu bagaikan kuda binal, liar dan tidak mau dikendalikan, lalu bagaimanacaranya untuk mengalahkan dan menguasainya?
Maka para ulama mengatakan, bahwa untuk mengalahkannya nafsu terdapat tiga cara, yaitu:
(1) mencegah keinginan nafsu (syahwat). Karena kuda binal itu akan melemah bila dikurangi makanan kesukaannya;
(2) memperberat beban muatan dengan berbagai ibadah, karena keledai jika ditambah muatannya dan dikurangi makannya akan menjadi tunduk dan menurut; dan
(3) memohon pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla, merapat dan mendekat dengan penuh ketundukan kepada-Nya, agar Allah swt menolongnya.
Sebagaimana yang disebutkan dalam Alqur’an “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (Q.S. Yusuf: 53).
Apabila sesorang membiasakan mengerjakan tiga hal tersebut, tentu nafsu binal itu akan menurut, dengan izin Allah SWT.
Dengan demikian, seseorang akan terbebas dan selamat dari kejahatan nafsunya. Apabila manusia dikuasai oleh hawa nafsunya, ia akan terjatuh kedalam tingkatan yang terendah, sehingga tidak ada tempat lagi selain bersama hewan.
Tetapi apabila mampu mengatasinya, maka akan mudah untuk mengatur dan mengendalikannya.
Disampaikan oleh AL-Ghazali dalam Ihya’ Ulumudin manusia apabila dikuasi oleh sifat kemarahan, maka akan melakukan perbuatan-perbuatan binatang buas, yaitu permusuhan, kemarahan, dan serangan terhadap manusia lain dengan pukulan dan makian.
Sekiranya manusia dikuasi oleh nahfu syahwat, maka akan melakukan perbuatan-perbuatan hewan seperti kerakusan, kelobaan, kesangatan nafsu syahwat.
Oleh sebab itu, Allah SWT mengkaitkan banyak masalah penting kehidupan dengan hawa nafsu karena hawa nafsu merupakan potensi yang disimpan Allah SWT pada diri setiap manusia.
Manusia akan mengeluarkannya bila dibutuhkan. Seperti juga Allah SWT telah meletakkan berbagai energi dalam perut bumi untuk bahan makanan, pakaian dan beragam prasarana kehidupan lainnya.
Begitu pula dengan air dan oksigen yang sangat dibutuhkan manusia
Dengan demikian, puasa mampu memjadi ‘penawar’ hawa nafsu manusia, sehingga manusia dalam belum ramadan lebih banyak berbuat kebajikan dibading melakukan kejahatan.
Banyak kegiatan-kegiatan yang bersifat positif yang mendekatkan diri kepada Allah swt. Mari kita jadikan bulan ramadan sebagai bulan membersihkan diri dari segala bentuk kejahatan. Sehingga tercipta manusia yang kamil. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/khoirul-muslimin.jpg)