Berita Semarang

Cegah Penyakit Degeneratif, BPJS Genjot Skrining Riwayat Kesehatan Guna Peningkatan Kualitas Hidup

BPJS Kesehatan Semarang dorong seluruh FKTP mengoptimalkan pelayanan promotif dan preventif.

Penulis: amanda rizqyana | Editor: sujarwo
Dok. Humas BPJS Kesehatan Semarang
Cegah penyakit degeneratif, Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Cabang Semarang mendorong seluruh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pratama (FKTP) di wilayahnya untuk mengoptimalkan pelayanan promotif dan preventif bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Cegah penyakit degeneratif, Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Cabang Semarang mendorong seluruh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pratama (FKTP) di wilayahnya untuk mengoptimalkan pelayanan promotif dan preventif bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

Salah satunya dengan menggalakan p

Cegah penyakit degeneratif, Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Cabang Semarang mendorong seluruh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pratama (FKTP) di wilayahnya untuk mengoptimalkan pelayanan promotif dan preventif bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).
Cegah penyakit degeneratif, Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Cabang Semarang mendorong seluruh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pratama (FKTP) di wilayahnya untuk mengoptimalkan pelayanan promotif dan preventif bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). (Dok. Humas BPJS Kesehatan Semarang)

rogram skrining riwayat kesehatan, untuk mengetahui risiko dari kondisi kesehatan peserta.

Dengan melakukan skrining riwayat kesehatan atau pemeriksaan kesehatan untuk mengetahui apakah seseorang berisiko lebih tinggi mengalami suatu masalah kesehatan.

Peserta dapat lebih meningkatkan kewaspadaan dan kesadaran mengenai pentingnya hidup sehat.
Skrining riwayat kesehatan ini dapat diakses peserta melalui aplikasi Mobile JKN, https://webskrining.bpjs-kesehatan.go.id maupun Chat Asisstance BPJS Kesehatan (CHIKA), di aplikasi Whatsapp (chatting ke nomor 08118750400, Telegram (https://t.me/BPJSKes_bot) atau melalui Facebook Messenger BPJS Kesehatan.

Berdasarkan Riskesda 2018 dipaparkan tren peningkatan berat badan pada orang dewasa meningkat hampir 2 kali lipat dari 19,1 % menjadi 35,4 %.

Bahkan berdasarkan data Kemenkes, 1 dari 3 orang dewasa mengalami obesitas atau kelebihan berat badan. Dan kasusnya meningkat setiap tahun.

“Jadi obesitas ini menjadi awal terjadinya penyakit degeneratif seperti Penyakit Jantung, Stroke, Hipertensi, Diabetes Mellitus, kanker, infertilitas. Jika tidak ditangani sejak dini tentunya akan berdampak pada penurunan fungsi organ tubuh juga memberikan dampak finansial yang cukup besar dalam pengelolaannya”, tutur Kepala BPJS Kesehatan Cabang Semarang, Andi Ashar pada Rabu (20/4/2022).

Karenanya selain melalui program skrining riwayat kesehatan, BPJS Kesehatan bersama Dinas Kesehatan bersinergi melalui program Pemeriksaan Kesehatan Berkala Cegah Obesitas (Perkasa) untuk menekan angka obesitas di kota Semarang.

Andi menekankan, melalui program ini, bersama Dinas Kesehatan kami memetakan peserta JKN-KIS berusia 17-35 tahun.

Mereka ini akan menerima Whatsapp Blast yang berisikan imbauan agar melakukan kontak dengan FKTP terdaftar untuk dilakukan pengecekan indeks massa tubuh (IMT).

"Nah, bagi yang IMT nya berlebih akan kita kelola bersama FKTP agar IMTnya kembali normal”, ucap Andi.

Andi menjelaskan, program ini memang menyasar generasi muda. Menurutnya, gaya hidup dan pola makan anak muda saat ini banyak berkontribusi dengan tidak terkendalinya IMT. '

Sehinggga, ia berharap dengan adanya program “Perkasa” ini angka kesakitan dapat terkendali dan masyarakat sehat dapat terwujud.

Sejak program ini diluncurkan pada bulan Januari, BPJS Kesehatan Cabang Semarang telah melakukan pengiriman  whatsapp blast kepada 28.552 peserta.

Sebanyak 5.164 peserta JKN-KIS di Kota Semarang telah terdaftar dalam program ”Perkasa” dan sebanyak 37 % peserta dalam kategori “Gemuk dan Obesitas” dan hanya 10 % peserta dalam kategori sangat kurus (IMT kurang dari normal).

Semakin dini peserta JKN-KIS mengetahui kondisi kesehatannya, maka semakin cepat upaya pengelolaan risiko sehingga jumlah penderita penyakit kronis dapat menurun.

Efek jangka panjang yang diharapkan adalah menurunnya pembiayaan penyakit-penyakit tersebut, sehingga program JKN-KIS dapat terus memberikan manfaat kepada peserta lain yang membutuhkan. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved