Tadarus
Revolusi Pendidikan untuk Indonesia Maju
Mengapa perintah pertama adalah perintah membaca bukan perintah salat, zakat, puasa, haji dan ibadah lainnya?. Karena kita harus mengetahui ilmunya
Prof Dr H Ustad Gunarto SH MHum
Rektor Universitas Islam Sultan Agung, Semarang
TRIBUNJATENG.COM -ILMU pengetahuan itu bagaikan cahaya di malam yang gelap. Ilmu menjadi penuntun manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia ini.
Dengan ilmu manusia dapat mengetahui mana yang hak dan mana yang batil. Begitu pentingnya ilmu pengetahuan sehingga surat pertama yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yaitu surat Al Alaq ayat 1-5 yang merupakan dasar perintah untuk menuntut ilmu.
Mengapa perintah pertama adalah perintah membaca bukan perintah salat, zakat, puasa, haji dan ibadah lainnya?. Hal ini mengindikasikan sebelum kita salat, puasa, haji dan mengerjakan berbagai perintah lainnya kita harus mengetahui ilmunya.
Sungguh tidak sama antara orang orang yang berilmu dengan orang orang yang tidak berilmu. Ilmu bagaikan kunci dan orang orang yang sedang menuntut ilmu laksana orang orang yang sedang berusaha meraih kunci- kunci kebahagiaan di dunia maupun kunci- kunci kebahagian di akhirat.
Sangatlah tepat sebuah kalimat hikmah yang menyatakan barang siapa menginginkan kebahagiaan dunia, maka tuntutlah ilmu dan barang siapa yang ingin kebahagiaan akherat, tuntutlah ilmu dan barang siapa yang menginginkan keduanya tuntutlah ilmu pengetahuan.
Derajat Ditinggikan
Lantas mana yang harus didahulukan menuntut ilmu pengetahuan atau menuntut ilmu agama?.
Sebenarnya pertanyaan seperti itu merupakan pertanyaan yang absurb. Dalam Islam tidak terdapat dikotomi antara ilmu pengetahuan dan ilmu agama.
Alquran menekankan agar setiap muslim mencari ilmu pengetahuan dengan meneliti alam semesta ini, dan bagi orang yang menuntut ilmu telah dijanjikan mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah sebagaimana disebutkan dalam Alquran Surat Al Mujadalah ayat 11 yang artinya: Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa Islam tidak pernah menganggap adanya dikotomi ilmu pengetahuan dan ilmu agama.
Adanya dikotomi keilmuan ini akan berimplikasi pada dikotomi model pendidikan.
Di satu pihak ada pendidikan yang hanya memperdalam ilmu pengetahuan modern yang kering dari nilai-nilai keagamaan, dan di sisi lain ada pendidikan yang hanya memperdalam masalah agama yang terpisahkan dari perkembangan ilmu pengetahuan.
Sesungguhnya ilmu itu tidak bebas nilai, tetapi sarat dengan nilai. Sehingga sangat penting adanya islamisasi ilmu pengetahuan supaya orang yang belajar ilmu pengetahuan bisa terpola langsung pemikiran dan tingkah lakunya.
Untuk meraih tujuan tersebut maka harus diperhatikan beberapa hal antara lain pertama jadikan Alquran dan sunnah sebagai landasan dalam berpikir.
Dua, lakukan pencarian terhadap ilmu-ilmu modern dan yang ketiga lakukan pendekatan filsafat dalam ilmu pengetahuan tersebut.
Konsep seperti itu hendaknya menjadi bahan renungan dan pemikiran bersama untuk saat ini dan kedepannya dalam mengembangkan pendidikan agar mampu melahirkan insan- insan religius yang profesional dan di saat yang sama mampu melahirkan insan- insan profesional yang religius.
Budaya akademik
Dalam konteks itu apa yang dilakukan Unissula misalnya menjadi sebuah hal yang menarik.
Tepatnya ketika Unissula membulatkan tekad mendeklarasikan Budaya Akademik Islami pada tahun 2005 sebagai strategi pendidikannya. Maka sejak saat itu haluan dan paradigma pendidikannya berubah total.
Yaitu dimulainya pendidikan yang berdasar atas tata nilai-nilai Islam. Artinya membangun paradigma baru dalam pendidikan. Paradigma baru mengharuskan mengembangkan ilmu dan teknologi dengan melaksanakan rekonstruksi ilmu atas dasar nilai-nilai Islam agar arah pengembangan ilmu ke depan sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Pada praktiknya, pendidikan di Unissula yang berlandaskan Islam memiliki tugas utama yakni melahirkan generasi khaira ummah. Yakni generasi terbaik yang Allah potensikan mampu memimpin dunia.
Budaya Akademik Islami berisi dua hal fundamental yaitu penguatan ruhiyah dan penguatan iptek.
Penguatan ruhiyah adalah penguatan akidah, ibadah dan akhlak yang dikemas dalam gerakan pembudayaan yang meliputi gerakan shalat berjama’ah, gerakan berbusana Islami, gerakan toharah, gerakan keteladanan, gerakan keramahan islami, dan gerakan kualitas hidup.
Penguatan iptek terdiri atas semangat iqra’, mengembangkan iptek atas dasar nilai-nilai Islam, islamic learning society, dan apresiasi iptek.
Semoga model pendidikan seperti itu semakin banyak diadopsi di dunia pendidikan dan memberikan sumbangan nyata dalam membangun kwalitas SDM Indonesia.
Terlebih menjelang 100 tahun Indonesia emas pada tahun 2045 mendatang. Indonesia tentu lebih banyak membutuhkan SDM yang profesional yang religius serta SDM yang religius yang profesional. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ustad-gunarto-sh-mhum.jpg)